Selasa, 20 Maret 2012

filsafat pendidikan (aliran esensialisme)


FILSAFAT PENDIDIKAN ESENSIALISME
Oleh: Muhammad Ramadhan Yusuf Djalil
(R&B)
(Ramadhan & Brother Shoes)
Jln. T. Iskandar No. 8  Ulee Kareng Banda Aceh

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan, manusia memiliki rasionalitas berpikir untuk memecahkan masalahnya maupun dalam upaya mewujudkan idealitas kehidupan yang sesuai dengan pandangan hidupnya baik itu upaya yang ditempuh dalam bentuk reaksi prektis, maupun yang diupayakan melalui proses pendidikan. Tujuan pendidikan akan sama dengan gambaran manusia terbaik menurut orang tertentu dan gambaran manusia terbaik bagi setiap orang berbeda-beda sesuai dengan pandangan hidupnya. Bila pandangan hidupnya suatu mazhab filsafat, maka manusia yang baik akan mengacu dan sesusai dengan mazhab (aliran) filsafat yang dianutnya.[1] Begitu juga dengan pandangan (pemikiran) tentang pendidikan (termasuk tujuan pendidikan) akan sangat tergantung pada filsafat yang dianutnya. Hal ini berlaku juga bagi aliran filsafat esensialisme yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan pandangan progressivisme.
B. Rumusan Masalah
a. Pengertian filsafat pendidikan esensialisme
b. Sejarah lahirnya ajaran esensialisme
c. Teori pendidikan esensialisme
d. Tokoh-tokoh esensialisme dan pandangannya
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Esensialisme
Esensialisme adalah aliran filsafat pendidikan yang memandang bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai[2], kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia, yang mempunyai kejelasan dan tahan lama sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.[3] 
Dengan lebih tegas bisa dikatakan menurut pandangan Esensialisme pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Hal ini sangat bertolak belakang dengan pandangan progressivisme yang cenderung memandang bahwa pendidikan harus perpijak pada fleksibilitas, terbuka untuk perubahan dan tidak terikat dengan dokterin dan norma tertentu, sekalipun dengan norma agama.[4] Menurut esensialisme pendidikan harus bertumpu pada nilai-nilai yang telah teruji ketangguhannya dan kekuatannya sepanjang masa, sehingga nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya / sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang berbentuk secara berangsur-angsur melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Esensialisme berpijak pada pandangan humanisme yang kontradiktif dengan pandangan hidup yang serba materialistis, keduniawian dan serba ilmiah.
B.  Sejarah Lahirnya Aliran Esensialisme
Esensialisme muncul pada zaman Renaissans, sebagi bentuk reaksi atas pandangan progressivisme yang memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak terikat dengan doktrin tertentu.[5] Dalam hal ini esensialisme berpandangan bahwa pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai, norama-norma, yang memiliki kejelasan dan tahan lama, karena  menurut esensialisme pendidikan yang tidak berpijak pada dasar diatas akan mudah goyah atau dengan kata lain bisa dikatakan akan kurang terarah.
Dengan demikian Renaissans adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikiran esensialisme. Aliran esensialisme muncul sebagai reaksi terhadap pandangan progressivisme yang materialistik, yang serba bebas.
C.  Teori Pendidikan Esensialisme.
Esensialisme mengharapkan agar pendidikan dan landasan-landasannya mengacu pada nilai-nilai yang esensial.[6] Dalam hal ini menurut esensialisme pendidikan harus mengacu pada nilai-nilai yang sudah teruji oleh waktu, bersifat menuntun, dan telah berlaku secara turun-temurun dari zaman ke zaman.
Adapun beberapa pandangan esensialisme yang berkaitan dengan pendidikan yaitu sebagai berikut:
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan esensialisme adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terakumulasi, serta telah bertahan sepanjang waktu untuk diketahui oleh semua orang.[7] Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang tepat untuk membentuk unsur-unsur pendidikan yang inti (esensial), pendidikan diarahkan mencapai suatu tujuan yang mempunyai standart akademik yang tinggi, serta pengembangan intelek atau kecerdasan.
2. Kurikulum
Menurut aliran esensialisme kurikulum pendidikan lebih diarahkan pada fakta-fakta (nilai-nilai), kurikulum pendidikan esensialisme berpusat pada mata pelajaran.[8] Dalam hal ini ditingkat sekolah dasar misalnya, kurikulum lebih ditekankan pada beberapa kemampuan dasar, diantaranya yaitu kemampuan menulis, membaca dan berhitung. Sementara itu dijenjang sekolah menengah penekanannya sudah lebih diperluas, misalnya sudah mencakup sains, bahasa, sastra dan sebagainya.
Dalam hal ini menurut pandangan esensialisme kurikulum yang diterapkan dalam sebuah proses belajar menganjar lebih menekankan pada penguasaan berbagai fakta dan pengetahuan dasar merupakan sesuatu yang sangat esensial bagi kelanjutan suatu proses pembelajaran dan dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. Dengan kata lain penguasaan fakta dan konsep dasar disiplin yang esensial merupakan suatu keharusan.  
3. Metode pendidikan
Dalam pandangan esensialisme, metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar lebih tergantung pada inisiatif dan kreatifitas pengajar (guru)[9], sehingga dalam hal ini sangat tergantung pada penguasaan guru terhadap berbagai metode pendidikan dan juga kemampuan guru dalam menyesuaikan antara berbagai pertimbangan dalam menerapkan suatu metode  sehingga bisa berjalan secara efektif.
Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered), umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan dan mereka harus dipaksa belajar. Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas, penguasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.
4. Pelajar
Dalam pandangan esensialisme sekolah bertanggung jawab untuk memberikan pengajaran yang logis atau terpercaya kepada peserta didik, sekolah berwenang untuk mengevaluasi belajar siswa.[10] Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa siswa adalah mahluk rasional dalam kekuasaan (pengaruh) fakta dan keterampilan-keterampilan pokok yang diasah melakukan latihan-latihan intelek atau berfikir, siswa kesekolah adalah untuk belajar bukan untuk mengatur pelajaran sesuai dengan keinginannya. Dalam hal ini sangat jelas dalam pandangan esensialisme bahwa pelajar harus diarahkan sesuai dengan nilai-nilai yang sudah dakui dan tercantum dalam kurikulum, bukan didasarkan pada keinginannya.
5. Pengajar
Menurut pandangan aliran filsafat esensialisme, dalam proses belajar mengajar posisi guru adalah sebagai berikut:
a.       Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan menguasai kegiatan-kegiatan di kelas.
b.      Guru berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawasan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan yang hendak ditanamkan kepada peserta didik.[11]
Dengan kata lain dalam pandangan esensialisme dalam proses belajar menganjar pengajar (guru) mempunyai peranan yang sangat dominan dibanding dengan peran siswa, hal ini tidak terlepas dari pandangan mereka tentang kurikulum dan juga tentang siswa dimana siswa harus diarahkan sesuai dengan kurikulum yang sesuai dengan nilai-nilai yang sudah teruji dan tahan lama, sehingga guru mempunyai peranan yang begitu dominan dalam jalannya proses belajar menganjar.
D. Tokoh-Tokoh Esensliasme dan Pandangannya
Esensialime dalam melakukan gerakan pendidikan didasari pada pandangan humanisme yang secara mendasar bisa dikatakan merupakan reaksi atas pemikiran progessivisme yang cenderung mempunyai pandangan hidup yang materialistik, yang tidak terikat dengan nilai-nilai yang sudah diayakini dan teruji.
Adapun beberapa tokoh yang berperan dalam penyebaran pandangan pendidikan esensialisme yaitu sebagai berikut:[12]
1. Johann Amos Comenius (1592-1670). Yang mengemukakan bahwa salah satu peranan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang ideal yaitu yang sesuai dengan keinginan dan kehendak Tuhan. Hal ini dikarenakan menurutnya pada dasarnya dunia adalah dinamis dan bertujuan. Atau bisa dikatakan Johann Amos comenius adalah orang yang mempunyai pandangan yang dogmatis dan idealis yang bertentangan dengan pandangan progressif.
2. Johan Friederich Herbert (1776-1841) mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah upaya untuk mewujudkan kserasian (kesinergian) jiwa seseorang dengan kebijaksanaan Tuhan atau dengan kata lain adanya penyesuaian dengan hukum kesusilaan. Pengajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu mewujudkan manusia yang ideal yang sesuai dengan hukum-hukum kesusilaan dan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh Tuhan.
3. William T. Harris (1835-1909). Tugas pendidikan menurutnya yaitu menjadikan terbukanya realitas berdasarkan susunan yang pasti dan didasarkan pada kesatuan spiritual. Menurutnya sekolah merupakan lembaga yang bertugas untuk memelihara nilai-nilai yang turun menurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri pada realitas masyarak.
4. Desiderius Erasmus (abad 15-16). Dia berpandangan bahwa kurikulum disekolah harus bersifat humanistis serta bersifat internasional sehingga bisa menyentuh semua lapisan masyarakat termasuk kaum aristokrat maupun kaum menengah.
5. John Locke (1632-1704), berpandangan bahwa pendidikan idealnya selalu dekat dengan realitas kehidupan, bahkan sebagai perwujudan dari gagasannya tersebut John Locke mempunya sekolah kerja yang diperuntukkan bagi golongan anak-anak kurang mampu (miskin).[13]

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Aliran esensialisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang memandang bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai yang mempunyai kejelasan dan tahan lama sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.
Esensialisme muncul pada zaman Renaissans, dan Renaissans adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikiran esensialisme Adapun beberapa pandangan esensialisme yang berkaitan dengan pendidikan yaitu sebagai berikut:
Tujuan pendidikan esensialisme adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terakumulasi, dan bertahan sepanjang waktu untuk diketahui oleh semua orang. Menurut aliran esensialisme kurikulum pendidikan lebih diarahkan pada fakta-fakta (nilai-nilai), metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar lebih tergantung pada inisiatif pengajar (guru).
Dalam pandangan esensialisme sekolah bertanggung jawab untuk memberikan pengajaran yang logis atau terpercaya, sekolah berkuasa untuk mengevaluasi dan juga menuntut hasil belajar siswa. Dalam proses belajar menganjar pengajar mempunyai peranan yang sangat dominan dibanding dengan peran siswa
Adapun beberapa tokoh yang berperan dalam penyebaran pandangan pendidikan esensialisme yaitu sebagai berikut Johann Amos Comenius (1592-1670) Johan Friederich Herbert (1776-1841) William T. Harris (1835-1909) Desiderius Erasmus (abad 15-16) dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, filsafat pendidikan Islam 1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006.
Amsal Amri, Studi Filsafat Pendidikan, Banda  Aceh: Yayasan Pena, 2009
Fadliyanur. Aliran Esensialisme. http://www.blogspot.com
Jalaluddin Abdullah. Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Aggota IKAPI, 2007
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.



[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006, Hal. 76
[2] Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang memandang bahwa pengetahuan yang dikembangkan dalam proses pendidikan adalah pengetahuan yang sesuai dan sejalan dengan keyakinan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh agama.
lih: Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany (terj: Hasan Langgulung),  Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979hal.14
[3] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004, hal. 25
[4] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam…,hal. 20
[5] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam…, hal. 25
[6] Amsal Amri, Studi Filsafat Pendidikan, Banda Aceh: Yayasan Pena, hal. 70
[7] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Aggota IKAPI, 2007, hal.161
[8] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan..., hal 162
[9] Fadliyanur. Aliran Esensialisme. http://www.blogspot.com/05/2008/aliran
[10] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan..., 165
[11] http://One.Indoskripsi.com/Aliran -Aliran Pendidikan, diakses tgl.3 juni 2011
[12] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam…, hal. 25
[13] Fadliyanur. Aliran Esensialisme. http://www.blogspot.com/05/2008/aliran esensialisme.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar