Selasa, 20 Maret 2012

NABI MUHAMMAD SEBAGAI PROTOTIPE PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM


NABI MUHAMMAD SEBAGAI PROTOTIPE PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Muhammad Ramadhan Yusuf Djalil
(R&B)
(Ramadhan & Brother Shoes)
Jln. T. Iskandar No. 8  Ulee Kareng Banda Aceh
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.

            Pendidikan Islam bertujuan untuk membina dan membentuk perilaku atau akhlak peserta didik dengan cara meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, serta pengamalan peserta didik terhadap ajaran agama Islam. Sehingga setelah menyelesaikan pendidikan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa dan bernegara. Dengan kata lain tujuan pendidikan adalah untuk membentuk insan kamil yang mulia didunia dan akhirat, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Hujarat ayat 13:
                           (١٣ الحجرات: )…ان اكرمكم عند الله اتقكم
Artinya: …sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah SWT adalah orang yang paling takwa diantara kamu… (Q.S. Al-Hujarat: 13).[1]
Dalam mewujudkan tujuan tersebut, terdapat berbagai faktor pendukung yang terlibat, atau terkait baik secara langsung, maupun secara tidak langsung dalam proses pendidikan. Diantara faktor-faktor tersebut yaitu pendidik, anak didik, sarana dan prasarana, kurikulum, media pendidikan, bahan pelajaran dan lain sebagainya, yang masing-masing faktor tersebut mempunyai peranannya tersendiri.
Dalam hal ini, tidak dapat dipungkiri lagi peran pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan sulit untuk diabaikan. Pendidik secara kusus sering disebut sebagai “jiwa atau rohnya” pendidikan. Pendidkan tidak akan berarti apa-apa tanpa kehadiran pendidik, apapun model kurikulum yang dijalankan, pendidiklah yang pada akhirnya yang menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan yang telah dicanangkan.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pendidik atau pendidik merupakan salah satu faktor yang mempunyai peranan besar untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang telah dicanangkan. Pendidik pendidikan agama misalnya yang menjadi teladan bagi siswa dalam membina akhlak siswa itu sendiri.
Idealnya pendidik harus memfasilitasi dirinya dengan berbagai kompetensi agar dapat menjalankan profesinya secara profesional, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. pendidik harus membekali dirinya dengan seperangkat pengalaman, ketrampilan dan pengetahuan tentang kependidikan di samping harus menguasai substansi keilmuan yang ditekuninya, hal ini bertujuan agar pendidik dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran surat At-Thur ayat 21yaitu:
كل امرئ بما كسب رهين (الطور:٢١)
Artinya: …tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (Q.S. At-Thur:21).[2]
 Realitanya dilapangan menunjukkan bahwa banyak pendidik yang mengajar masih terkesan hanya memerlukan strategi dan berbagai metode tertentu dalam mengajar. Baginya yang penting bagaimana sebuah peristiwa pembelajaran dapat berlangsung, ia merasa tidak perlu membuat perencanaan mengajar dan pengembangan tujuan, pengembangan pesan dan mengabaikan penggunaan berbagai media dalam pembelajaran.
Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik dikenal dengan pendidik yang merupakan terjemahan dari berbagai kata yakni murabbi, mu’allim dan mua’did Ketiga term itu, murabbi, mu’allim dan mua’did mempunyai makna yang berbeda, sesuai dengan konteks kalimat, walaupun dalam konteks tertentu mempunyai kesamaan makna.
Kata murabbi misalnya, sering dijumpai dalam kalimat yang orientasinya lebih mengarah kepada pemeliharaan , baik yang bersifat jasmani atau rohani, pemeliharaan seperti ini terlihat dalam proses orang tua membesarkan anaknya, mereka tentunya berusaha memberikan pelayanan secara penuh agar anaknya tumbuh dengan fisik yang sehat dan kepribadian serta ahlak yang terpuji.
Sedangkan untuk istilah mu’allim, pada umumnya dipakai dalam membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemberian atau pemindahan ilmu pengetahuan dari seseorang yang tahu kepada seseorang yang tidak tahu. Adapaun istilah muaddib lebih luas dari istilah mua’llim dan lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam.
Dalam sejarah Islam, pendidik dan ulama itu selalu bergandengan, seorang ulama itu juga seorang pendidik. Sebagai penerima wahyu mengajarkan wahyu itu kepada para pengikutnya Nabi merupakan prototipe pendidik yang ideal dalam pendidikan Islam. Dalam beberapa dekade terakhir, dalam dunia pendidikan sering kita dapati kenyataan bahwa tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sering tidak tercapai, salah satu indikasi yang menunjukkan kearah tersebut adalah terjadinya dekadensi moral yang terus menghantui bangsa kita.
            Bertolak dari kenyataan tersebut, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dicanangkan tentunya dimulai dari mempersiapkan berbagai komponen atau faktor yang bisa mendukung terwujudnya tujuan pendidikan yang telah dicanangkan dan dalam hal ini keberadaan pendidik yang profesional sebagai “rohnya” pendidikan merupakan kebutuhan yang mau tidak mau harus dipenuhi guna terwujudnya tujuan pendidikan Islam yang telah dicita-citakan yaitu mewujudkan manusia atau insan kamil yang senantiasa bertakwa kepada Allah SWT sebagaimana yang telah dicontohklan oleh Rasulullah SAW.


B. Rumusan Masalah.

Permasalahan guru yang ideal sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. merupakan suatu hal yang cepat atau lambat harus dihadapi dalam setiap proses pendidikan, agar pendidikan yang dijalankan berlangsung secara efektif. Adapun masalah yang berkenaan dengan hal ini sangat banyak, dikarenakan untuk membahas semua permasalahan tersebut penulis menghadapi berbagai kendala, maka penulis hanya membatasi pada beberapa hal berikut:
  1. Bagaimanakah yang dikatakan Muhammad SAW. sebagai pendidik ideal dalam pendidikan Islam ?
  2. Syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh pendidik yang ideal dalam pendidikan Islam?
  3. Apa saja tanggung jawab pendidik dalam pendidikan Islam? 
Berangkat dari kenyataan tersebut, maka penulis tertarik untuk menelusuri lebih jauh mengenai MUHAMMAD SEBAGAI PROTOTIPE PENDIDIK IDEAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM.

C. Tujuan Penulisan Makalah

Setiap sesuatu yang dilakukan oleh seseorang secara sadar tidak terlepas dari tujuan tertentu yang bermamfaat bagi pelaku atau bahkan juga bagi orang lain disekitarnya, begitu juga dengan penulis menulis makalah ini, adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:
  1. Untuk mengetahui bagaimanakah yang dikatakan Muhammad SAW. sebagai pendidik ideal dalam pendidikan Islam.
  2. Untuk mengetahui syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh pendidik yang ideal dalam pendidikan Islam.
  3. Untuk mengetahui apa saja tanggung jawab pendidik dalam pendidikan Islam.



















BAB II
 MUHAMMAD SEBAGAI PROTOTIPE PENDIDIK IDEAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM



A.    Profil Rasulullah Mumammad SAW.

Nabi Muhamammad SAW. dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim pada tahun 571 M yaitu tepatnya pada permulaan tahun gajah.[3] Versi lain menyebutkan bahwa Rasulullah SAW lahir pada tahun 570 M.[4] Beliau dilahirkan dari hasil perkawinan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah binti Khuwailid. Rasulullah SAW memiliki banyak keistimewaan yang muncul selama pertumbuhannya dibandingkan dengan orang lain disekitarnya. Rasulullah SAW merupakan sosok yang mempunyai pemikiran yang cemerlang, cara pandangan yang lurus, serta mendapat sanjungan karena inteligensinya tersebut, yang sangat pantas untuk diteladani.[5]
Rasul merupakan sosok yang sangat bijak dalam menjalani kehidupan sosialnya, beliau senantiasa menghargai orang-orang disekitarnya. Rasulullah SAW senantiasa bekerja sama dengan masyarakat disekitarnya, selama mendapatkan yang baik, maka dia mau bekerja sama dan ikut serta di dalamnya. Jika tidak mengandung kebaikan, maka dia lebih suka dengan kesendiriannya. Selama masa pertumbuhannya dari anak-anak hingga beranjak dewasa Rasulullah SAW tidak pernah minum khamar sebagaimana kebiasaan masyarakat dikal itu, beliau juga tidak pernah makan binatang yang disembelih dengan nama berhala dan perbuatan syirik lainnya.[6]
Nabi Muhammad Saw merupakan orang pilihan yang senantiasa dalam perlindungan Allah SWT, bahkan sejak kecil jiwa beliau telah disucikan oleh Allah SWT dari segala sifat yang tercela.[7]Sehingga Rasulullah SAW menjadi pribadi yang sangat menonjol di tengah kaumnya hal ini bisa terindikasi dengan perkataannya yang lemah lembut, akhlaknya yang utama, sifat-sifatnya yang terpuji. Selain itu Rasulullah SAW adalah orang yang paling utama kepribadiannya di tengah kaumnya, paling bagus akhlaknya, paling terhormat dalam perkataannya, paling terjaga jiwanya, paling terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, tidak pernah mengingkari janji, sertan paling bisa dipercaya, dengan segala kelbihan dan keunggulannya Rasulullah SAW diberikan gelar al-Amin, hal ini dikarenakan pada diri Rasulullah SAW terkandung semua sifat-sifat yang diridhai oleh Allah SWT dan juga disenangi oleh orang lain disekitarnya.[8]
B.     Tugas Kerasulan

Keberadaan Nabi Muhammad SAW. sebagai seorang pendidik sekaligus materi pendidikannya yang merupakan tugas kerasulan beliau sudah dirancang dan persiapkan oleh Allah SWT. seperti Firman Allah dalam Q.S. al-Jumu’ah ayat: 2

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya:
“ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Qs. Al-Jum’ah ayat: 2).[9]
Sejalan dengan ayat di atas, dalam Q.S. Ali Imran ayat 164 Allah SWT juga berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِين


Artinya:
“ Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.( Q.S. Ali Imran ayat :164).[10]
Dari kedua ayat di atas jelaslah bagi kita bahwa Nabi Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. kepada umatnya untuk menanamkan ilmu sekaligus mensucikan jiwa mereka. Mensucikan dari sifat-sifat mazmumah (buruk) seperti syirik, dengki, takabur serta prilaku buruk lainnya seperti ,mabuk-mabukan, merampas hak orang lain dan lain-lain. Nabi Muhammad SAW. merobah pola pikir masyarakat penyembah berhala pada mulanya sehingga dengan didikan dan bimbingan beliau, akhirnya menyembah Allah SWT. sebagai pencipta, pengatur, pemelihara umat manusia.
Sementara disisi lain Kedudukan Nabi Muhammad SAW. sebagai seorang pendidik (pendidik), beliau nyakatan sendiri dengan sabdanya :

إِنَّ الله بَعَثَنِى مُعَلِّمًا مُيَسِّرً
“ Sesungguhnya Allah yang mengutusku sebagai seorang mualim dan pemberi kemudahan”
Rasulullah SAW. telah bersunguh-sungguh dalam mendidik para sahabat dan generasi muslim, hingga mereka memiliki kesempurnaan ahlak, kesucian jiwa dan karakter yang bersih.
Dalam prespektif psikologi pendidikan, mengajar pada prinsipnya berarti proses perbuatan seseorang (pendidik) yang membuat orang lain (siswa) belajar, dalam arti mengubah seluruh dimensi prilakunya. Prilaku itu meliputi tingkah laku yang bersifat terbuka seperti keterampilan membaca (ranah karsa), juga yang bersifat tertutup, seperti berfikir (ranah cipta) dan berperasaan (ranah rasa).[11]
Sebagai seorang pendidik, Nabi Muhammad SAW. tidak hanya berorientasi kepada kecakapan-kecakapan ranah cipta saja, tetapi juga mencakup dimensi ranah rasa dan karsa. Bahkan lebih dari itu Nabi Muhammad SAW. sudah menunjukan kesempurnaan sebagai seorang pendidik sekaligus pengajar, karena beliau dalam pelaksanaan pembelajarannya sudah mencakup semua aspek yang ditetapkan oleh oleh para ahli pendidikan bahwa pendidikan harus mempunyai kompetensi kognitif (Rasulullah SAW. menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain), kompetensi psikomotorik (Rasulullah SAW. melatih keterampilan jasmani kepada para sahabatnya), kompetensi afektif (Rasulullah SAW. selalu menanamkan nilai dan keyakinan kepada sahabatnya).[12]

C.    Rasulullah Sebagai Pendidik Ideal dalam Pendidikan Islam

Secara etimologi pendidik adalah “orang yang melakukan bimbingan, pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik (pendidik) adalah orang yang melakukan kegiatan dalam pendidikan.”[13] Dalam referensi yang lain pendidik diartikan sebagai manusia yang mempunyai kualitas dalam hal ilmu pengetahuan, moral dan cinta atau loyal kepada agama. Manifestasi sikap seorang pendidik harus ditunjukkan melalui sifat-sifat ketaatan dan ketaqwaannya kepada Allah.[14]

Dalam khazanah pendidikan Islam pendidik sering disebut dengan berbagai macam istilah, diantaranya yaitu:
a.       “Ustadz” yaitu “seorang pendidik dituntut untuk mempunyai komitmen terhadap profesinya, berusaha untuk memperbaiki dan memperbaharui cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zaman.”[15]
b.      “Muaddib” yaitu “berasal dari kata adab, yang berarti moral, etika dan adab. Artinya  orang yang beradab, sekaligus memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban yang berkualitas dimasa depan.”[16]
Menurut Madyo Eko Susilo, yang dimaksud dengan pendidik adalah “seorang yang bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan secara sadar terhadap perkembangan kepribadian dan kemampuan peserta didik baik itu dari aspek rohani maupun jasmani agar ia mampu hidup mandiri, baik secara individu maupun sebagai makhluk sosial.”[17]Rasulullah Muhammad SAW. adalah sesosok guru yang telah memenuhi semua sifat dan syarat seorang guru yang telah ditetapkan oleh para ahli pendidikan.
1. Syarat-Syarat Pendidik yang Ideal dalam Pendidikan Islam.
Untuk menjadi pendidik tidaklah mudah, apalagi untuk menjadi pendidik dengan predikat sempurna, efektif, dan profesional. Dalam konteks pendidikan Islam pendidik harus memenuhi berbagai syarat agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Nabi Muhammad SAW. adalah sesosok pendidik yang telah memenuhi semua sifat dan syarat seorang pendidik yang telah ditetapkan oleh para ahli pendidikan.
Menurut Zakiah Darajat, sebagaimana yang telah dinukilkan oleh Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Pendidik dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, beliau menyatakan bahwa menjadi pendidik bukanlah hal yang mudah, tapi harus memenuhi beberapa syarat berikut ini:[18]
a.       Takwa Kepada Allah SWT
Sesuai dengan tujuan pendidikan islam, pendidik tidak mungkin mendidik peserta didik untuk bertakwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertakwa, hal ini dikarenakan seorang pendidik akan menjadi teladan bagi peserta didiknya, sebagaimana halnya Rasulullah yang menjadi teladan bagi ummatnya.[19] Artinya sejauh mana seorang pendidik memperlihatkan teladan yang baik pada peserta didiknya, maka sejauh itu pula ia dapat diharapkan akan berhasil mendidik peserta didiknya agar menjadi manusia yang berguna bagi dirinya dan juga bagi orang lain.
b.      Berilmu
Ijazah tidak hanya secarik kertas semata, tapi lebih merupakan suatu bukti bahwa orang yang mendapatkannya telah memiliki ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan.[20]
Seorang pendidik pada umumnya dan pendidik dalam pendidikan Islam khususnya harus mempunyai ijazah sesuai dengan spesialisasi ilmunya agar ia diperbolehkan mengajar secara formal. Kecuali dalam keadaan darurat, misalnya jumlah anak didik sangat banyak, sementara jumlah pendidik yang tersedia tidak mencukupi atau tidak sebanding dengan jumlah peserta didik, tapi jika dalam keadaan tidak memaksa atau dalam keadaan normal, maka idealnya pendidik itu harus merupakan pendidik yang berijazah dan mempunyai spesialisasi dalam bidang agama, bahkan lazimnya makin tinggi tingkat pendidikan pendidik yang mengajar maka semakin bisa diharapkan meningkatnya mutu pendidikan yang dijalankan yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu masyarakat.
c.       Sehat Jasmani
Selain harus bertakwa kepada Allah dan berilmu, seorang pendidik juga disyaratkan harus mempunyai jasmani yang sehat (berbadan sehat).[21] Dengan kata lain seorang yang tidak sehat jasmaninya idealnya tidak bisa menjadi pendidik. Misalnya seorang yang mengidap penyakit yang menular, maka akan dikhawatirkan penyakitnya akan menular pada peserta didik, sehingga akan mengganggu proses belajar mengajar. bahkan sering kita dengar kata-kata “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat" artinya jika seseorang pendidik dalam pendidikan islam tidak mempunyai fisik yang prima dikhawatirkan akan mengganggu kinerjanya dalam menjalankan proses belajar mengajar.
d.      Berkelakuan Baik
Selain syarat yang telah disebutkan terdahulu, Zakiah Darajat juga mensyaratkan bahwa seorang pendidik juga harus berbudi pekerti yang mulia, budi pekerti pendidik sangat penting dalam membentuk watak anak didik.[22]Artinya dalam hal ini pendidik harus menjadi teladan dan model dalam kehidupan peserta didik sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, oleh karena itu sebenarnya syarat inilah yang paling utama bagi seorang pendidik dalam pendidikan Islam, dan diantara tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian peserta didik menjadi pribadi yang berbudi pekerti yang mulia dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang berbudi pekerti yang mulia juga. Yang dimaksudkan dengan berakhlak mulia disini adalah yang sesuai dengan apa yang diperlihatkan oleh Rasulullah.
Bahkan ditempat lain, lebih jauh Ramayulis menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Metodologi pendidikan agama Islam, bahwa “seorang pendidik agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik harus memenuhi beberapa syarat yaitu meliputi syarat fisik, syarat psikis, syarat keagamaan, syarat teknis, syarat paedagogis, syarat administratif dan syarat umur.”[23] Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai berikut ini:
a.       Syarat Fisik
Sejalan dengan yang telah disebutkan oleh Zakiah Darajat, Ramayulis juga mensyaratkan bahwa seorang pendidik harus mempunyai fisik yang sehat, dalam arti seorang pendidik tidak boleh memiliki cacat tubuh seperti penyakit mata, telinga, tangan dan lain sebagainya, yang memungkinkan mengganggu pekerjaannya. Selain itu seorang pendidik juga tidak boleh memiliki gejala-gejala penyakit yang menular, seorang pendidik yang berpenyakit menular akan membahayakan peserta didiknya.
b.      Syarat Psikis
Selain syarat fisik, pendidik juga harus memenuhi syarat lainnya yaitu syarat psikis. Yang tergolong dalam syarat psikis yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah sehat rohani, dewasa dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah, sopan, memiliki jiwa kepemimpinan dan tentunya harus bertanggung jawab serta penuh dedikasi dalam menjalankan tugasnya. Dengan kata lain tanpa dilengkapi oleh sifat-sifat tersebut maka pendidik tersebut diragukan akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
c.       Syarat Keagamaan
Syarat selanjutnya yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik adalah harus merupakan seorang yang beragama dan ta’at dalam mengamalkan ajaran agamanya. Bahkan lebih jauh dikatakan pendidik harus menjadi sumber norma dari segala norma agama yang dianutnya. Dengan kata lain seorang pendidik harus sebisa mungkin menjauhi diri dari sifat tercela, dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji.
d.      Syarat Teknis
Pendidik juga harus memenuhi syarat teknis, yang dimaksudkan dengan syarat teknis disini yaitu seorang pendidik harus merupakan orang yang memiliki ijazah pendidik, seperti izah fakultas tarbiyah atau ijazah kependidikan lainnya Dengan kata lain seorang yang menjadi pendidik harus seorang lulusan atau sarjana dari pendidikan kependidikan, dan juga harus disesuaikan antara tingkatan ijazah yang ia miliki dengan jenjang tempat ia bekerja (mengajar), sehingga seorang sarja PGMI misalnya tidak dibenarkan untuk mengajar ditingkat Tsanawiyah atau ’aliah tapi hanya dibolehkan untuk mengajar dijenjang yang sesuai dengan ijazah yang ia miliki
e.       Syarat Paedagogis
Selanjutnya pendidik juga harus memenuhi syarat paedagogis, maksudnya seorang harus menguasai metode mengajar, menguasai materi-materi yang akan diajarkan kepada peserta didik, dan juga ilmu lainnya yang relevan dengan bidang spesialisasinya seperti psikologi pendidikan, psikologi perkembangan dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar pendidik dapat mengajar dan membimbing peserta didiknya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai bidangnya saja tapi lebih dari itu juga harus menguasai berbagai bidang ilmu lain yang dapat menunjangnya dalam menjalankan tugas.
f.       Syarat Administratif
Syarat berikutnya yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik adalah syarat administratif. Yang dimaksud dengan syarat administratif disini yaitu seorang pendidik harus diangkat oleh pemerintah atau lembaga lainnya yang berwenang untuk mengangkat pendidik untuk menjalankan tugasnya sebagai tenaga pengajar dan pendidik, dengan diangkatnya ia sebagai pendidik maka dengan sendirinya dia dituntut agar dapat mencintai dan mendedikasikan diri untuk tugas yang diembannya. Dengan kata lain idealnya seorang yang menjadi pendidik harus memperoleh mandat dari pihak yang berwenang untuk menjalankan profesinya sebagai pendidik.
g.      Syarat Umur
Yang terakhir, Ramayulis mengatakan bahwa, seorang pendidik juga harus memenuhi syarat umur yaitu seorang pendidik haruslah orang yang dewasa. Dalam islam yang dimaksud dengan dewasa adalah akil baligh atau mukallaf. Artinya, orang yang menjadi pendidik tidak boleh anak kecil (belum dewasa), tapi haruslah merupakan orang yang telah mencapai usia dewasa sehingga bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

      2. Tanggung Jawab Pendidik dalam Pendidikan Islam

Pendidik merupakan orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan peserta didik. Pribadi yang bermoral dan beriman merupakan pribadi yang diharapkan ada pada peserta didik. Tak ada seorang pendidik pun yang mengharapkan peserta didiknya menjadi sampah masyarakat, terlebih lagi pendidik dalam pendidikan Islam  yang sudah barang pasti mengharapkan peserta didiknya menjadi orang yang beriman dan berakhlak mulia, yang sesuai dengan nilai-nilai islami. Untuk itulah pendidik dengan penuh dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina peserta didiknya agar dimasa mendatang menjadi orang yang berguna dan sejalan dengan cita-cita pendidikan islam yaitu orang yang bertakwa.
Jika kita menilik lebih jauh, yaitu dengan mengaitkan dengan perubahan-perubahan transisional yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, maka dengan sendirinya akan menambah besar tanggung jawab pendidik sebagai aktor utama yang ikut bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran surat At-Thur ayat 21yaitu:
كل امرئ بما كسب رهين (الطور:٢١)
Artinya: …tiap-tiap manusia terikat (bertanggung jawab) dengan apa yang dikerjakannya (Q.S. At-Thur:21).[24]
 Dalam buku pedoman wawasan tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama RI,[25] dijelaskan bahwa: Tanggung jawab yang terpenting adalah merencanakan dan menuntun peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar agar dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan yang diharapkan. Pendidik dituntut agar senantiasa membimbing peserta didik supaya peserta didik dapat menguasai ketrampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, kebiasaan-kebiasaan yang baik dan perkembangan sikap yang serasi.
Untuk memenuhi tanggung jawab tersebut, maka pendidik harus melakukan banyak hal agar pengajaran berhasil, antara lain sebagai berikut:
a.       Mempelajari setiap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya dikelas.
b.      Merencanakan, menyediakan dan menilai bahan-bahan belajar yang akan atau yang telah diberikan.
c.       Memilih dan menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan dan materi yang akan diajarkan serta juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.
d.      Memelihara hubungan pribadi dengan peserta didik dengan seintens dan seerat mungkin.
e.       Menyediakan lingkungan belajar yang baik dan mendukung jalannya proses belajar mengajar.
f.       Membantu peserta didik dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik.
g.      Mengatur dan menilai kemajuan dan perkembangan yang dicapai oleh peserta didik.
h.      Membuat catatan-catatan yang berguna demi kemajuan peserta didik dan menyusun laporan pendidikan.
i.        Mengadakan hubungan dengan orang tua peserta didik secara kontinu dan penuh rasa saling pengertian.
j.        Berusaha sebisa mungkin mencari data melalui serangkaian penulisan terhadap masalah pendidikan.
k.      Mengadakan hubungan dengan masyarakat seaktif dan sekreatif mungkin demi kepentingan jalannya pendidikan peserta didik.[26]
Tanggungjawab dan syarat seorang pendidik yang ditetapkan oleh beberapa ahli pendidikan (khususnya pendidikan Islam), semuanya sudah ada dalam diri Nabi Muhammad SAW., bahkan lebih sempurna dari apa yang ditetapkan oleh para ahli tersebut. Seperti halnya dalam materi dan tujuan pendidikan Islam, sangat mungkin poin-poin yang ditetapkan oleh para ahli pendidikan yang berhubungan dengan tanggungjawab, dan syarat seorang pendidikpun merupakan hasil kajian terhadap sosok Nabi Muhammad SAW. sebagai seorang pendidik yang telah dipersiapkan oleh Allah SWT.
 Dalam menyampaikan misi yang diembankan kepadanya, Nabi Muhammad SAW. benar-benar telah tampil sebagai sosok pendidik yang sempurna, pendidik yang pantas menjadi tauladan para pendidik, tidak ada perkataan beliau yang tidak sesuai dengan perbuatannya, Nabi Muhammad SAW. selalu memulai dari diri sendiri, prilaku yang dia tampilkan mengandung materi ajar dengan sendirinya. Kesederhanaan, kejujuran, kecerdikan, kesabaran, keadilan dan kepekaan Nabi Muhammad SAW. terhadap para sahabat adalah sifat-sfat beliau yang dengan sendirinya menjadi materi pembelajaran yang perlu diteladani.






BAB V
PENUTUP

Bab ini merupakan bagian terakhir dari penulisan makalah ini, berikut ini akan penulis kemukakan beberapa kesimpulan dan saran-saran yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.

KESIMPULAN

Nabi Muhamammad SAW. dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim pada tahun 571 M yaitu tepatnya pada permulaan tahun gajah. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Khuwailid. Rasulullah SAW merupakan sosok yang mempunyai pemikiran yang cemerlang, cara pandangan yang lurus, serta mendapat sanjungan karena inteligensinya tersebut, yang sangat pantas untuk diteladani.
Pendidik adalah “seorang yang bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan secara sadar terhadap perkembangan kepribadian dan kemampuan peserta didik baik itu dari aspek rohani maupun jasmani agar ia mampu hidup mandiri, baik secara individu maupun sebagai makhluk sosial. Nabi Muhammad SAW. adalah sesosok guru yang telah memenuhi semua sifat dan syarat seorang guru yang telah ditetapkan oleh para ahli pendidikan.
Diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pendidik yang ideal dalam pendidikan islm yaitu: takwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani, berkelakuan baik, dan lain-lain
Pendidik merupakan orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan peserta didik. Pribadi yang bermoral dan beriman merupakan pribadi yang diharapkan ada pada peserta didik. Untuk memenuhi tanggung jawab tersebut, maka pendidik harus melakukan banyak hal agar pengajaran berhasil, antara lain sebagai berikut: mempelajari setiap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya dikelas, merencanakan, menyediakan dan menilai bahan-bahan belajar yang akan atau yang telah diberikan, memilih dan menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan dan materi yang akan diajarkan serta juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik, dan lain-lain.
Tanggungjawab dan syarat seorang pendidik yang ditetapkan oleh beberapa ahli pendidikan (khususnya pendidikan Islam), semuanya sudah ada dalam diri Nabi Muhammad SAW., bahkan lebih sempurna dari apa yang ditetapkan oleh para ahli tersebut. Seperti halnya dalam materi dan tujuan pendidikan Islam, sangat mungkin poin-poin yang ditetapkan oleh para ahli pendidikan yang berhubungan dengan tanggungjawab, dan syarat seorang pendidikpun merupakan hasil kajian terhadap sosok Nabi Muhammad SAW. sebagai seorang pendidik yang telah dipersiapkan oleh Allah SWT.




















DAFTAR KEPUSTAKAAn


Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001
DEPAG RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Jakarta: 1971
_________, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2005
DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Pendidikan Nasional, Jakarta: Kencana, 2004
Helmi Z, et. all., Profesi Pendidikan, Banda Aceh: FKIP Unsyiah, 2006
Imam Tholkhah, Ahmad Barizi, Membuka Jendela Dunia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
Mahfudz Nazal, Mencetak Guru Profesional, Surabaya: Kopertais IV Press, 2008
Muhammad AR., Pendidikan di Alaf Baru; Rekonstruksi Moralitas Pendidikan, Prismasophie Press: Jogjakarta, 2003
Muhammad Hasyim, Penuntun Dasar Kearah Penulisan Masyarakat, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1983
Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Cet XXV, Jakarta: Pustaka Lintera Antar Nusa, 2001
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, PT. Ramaja Rosdakarya, Bandung, 2001

Mulyasa. E, Kurikulum Berbasis Kompetensi,Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005
Paul Suparno, Guru Demokrasi di Era ReformasiPendidikan,Jakarta: Grasindo, 2003
Philip K. Hitti, History of The Arabs, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005
Piet A. Sahertian, Ida A. Sahertian, Supervisi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1992
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2002
_________, ­Metodologi Pendidikan Agama Islam, Cet IV, Jakarta: Kalam Mulia, 2005
Suparlan, Menjadi Guru Efektif, Yogyakarta: Hikayat Publising, 2005
Syafruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Ciputat: Ciputat Press, 2005
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000
Thohirin, Psikologi Pembelajaran PAI, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005
Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004
____________, Metodik Kusus PAI, Jakarta: Bumi Aksara, 2003





[1] DEPAG RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta: 1971), hal. 847.

[2] DEPAG RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta: 1971), hal. 864.
[3] Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005), hal. 137.

[4] Lihat juga Syaikh Shafiyyur Rahman all-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, Cet. V, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998), hal. 75.

[5]Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Cet XXV, (Jakarta: Pustaka Lintera Antar Nusa, 2001), hal. 47.

[6] Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah..., hal. 86.

[7] Allah SWT. Berfirman:“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?” (Q.S Alam Nasyrah:1-3).
[8] Ibid., hal. 86.

[9] Al-Quran dan terjemahan …hal.
[10] Al-Quran dan terj ….hal.104

[11] Psikologi pendidikan…hal.
[12] Menurut Mc Ashan sebagaimana yang dikutip oleh E. Mulyasa dalam bukunya yang berjudul Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kompetensi” adalah “pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik sebaik baiknya.” (Lebih lanjut baca: E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi,Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005),hal. 38)   

[13] Ramayulis, ­Metodologi Pendidikan Agama Islam, Cet IV, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), hal. 49.

[14]Muhammad AR., Pendidikan di Alaf Baru; Rekonstruksi Moralitas Pendidikan, (Prismasophie Press: Jogjakarta, 2003), hal. 70.

[15] Ramayulis, ­Metodologi Pendidikan..., hal. 49.

[16] Ibid., hal. 50.

[17] Ibid.

[18] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif,(Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 32.

[19] Ibid.,

[20] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik…, hal. 33.

[21] Ibid.,

[22] Ibid.,

[23] Ramayulis, Metodologi PAI, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), hal. 51.

[24] DEPAG RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta: 1971), hal. 864.

[25] DEPAG RI, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam,2005), hal. 76.

[26] DEPAG RI, Wawasan Tugas Guru…, hal. 76-77.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar