Rabu, 21 Maret 2012

PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH

Oleh: Muhammad Ramadhan Yusuf Djalil
(R&B)
(Ramadhan & Brother Shoes)
Jln. T. Iskandar No. 8  Ulee Kareng Banda Aceh
Drs. B. Suryosubroto
PROSES
BELAJAR
MENGAJAR
DI SEKOLAH
DIRINGKAS OLEH: M. RAMADHAN
NIM                          : 22101087-2
UNIT                        : 1 KPI PPS IAIN AR-RANIRY





                                                                                                Penerbit
                                                                                                RINEKA CIPTA

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Bagian Pertama: Beberapa Wawasan Proses Belajar Mengajar

BAB I             Tugas dan Peranan Guru dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah

BAB II            Mengelola proses belajar menganjar
A.    Kemampuan Merencanakan Pengajaran
B.     Kemampuan Melaksanakan Proses Belajar Menganjar
C.     Kemampuan Melakukan Evaluasi (Pelaksanaan Penilaian)

BAB III          Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)
A.    Pengertian Sistem Instruksional
B.     Langkah-langkah Pokok
C.     Beberapa Nilai Positif

BAB IV          Sistem Pengajaran di Kelas dengan Pendekatan Keterampilan Proses
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Langkah-langkah Pelaksanaan
C.     Kerangka Isi Satuan Pelajaran
D.    Ketuntasan Belajar
E.     Penggunaan Kata-kata Operasional

BAB V            Pengajaran yang Memperhatikan Adanya Perbedaan Individual (Individualized Instruction)
A.    Pendahuluan
B.     Pengertian Individualized Instruction
C.     Beberapa Pengaturan atau Pelayanan yang Dapat untuk Menuju Individualized Instruction

BAB VI          Konsep Belajar Tuntas
A.    Pengertiaan
B.     Ide Lahirnya Belajar Tuntas
C.     Ciri-ciri Belajar Mengajar dengan Prinsip Belajar Tuntas
D.    Persiapan Mengajar dengan Prinsip Belajar Tuntas
E.     Model Strategi Belajar Tuntas
F.      Konsep Belajar Tuntas dalam Kaitannya dengan Paket Belajar
G.    Contoh pelaksanaan Belajar Tuntas dalam Kurikulum 1984 di SMA

BAB VII         Sistem Maju Berkelanjutan (Continuous Progress)
A.    Pendahuluan
B.     Pengertian Tentang Maju Berkelanjutan dan Jenisnya
C.     Beberapa Prinsip dan Ketentuan
D.    Tenaga Pengelola Kelas
E.     Gambaran Kongkret dalam Pelaksanaan
Bagian Kedua: Beberapa Metode Pendukung

BAB VIII       Pengantar Kepada Pengenalan Mengajar
Arti dan Maksud Metode Pengajaran
Hubungan Antara Tujuan dan Metode

BAB IX          Faktor Guru dan Kedudukan Metode Mengajar dalam Proses Interaksi Edukatif
Komponen-komponen Dasar dalam Interaksi Edukatif
Pengembangan Sistem Instruksional
Bagaimana Guru Harus Berbuat
Pengaruh Faktor Guru

BAB X            Metode Ceramah dalam Proses Belajar Menganjar
A.    Maksud dan Arti Metode Ceramah
B.     Keuntungan / Kebaikan Metode Ceramah
C.     Langkah-langkah untuk Mengefektifkan Metode Ceramah
D.    Asas-asas Didaktik dalam Metode Ceramah
E.     Alat-alat Pengajaran dalam Metode Ceramah
F.      Rencana Persiapan Mengajar dengan Metode Ceramah  
  
BAB XI          Metode Diskusi dalam Proses Belajar Mengajar
A.    Pengertian Pokok
B.     Relevansi Metode Diskusi
C.     Langkah-langkah Penggunaan Metode Diskusi
D.    Peranan Guru
E.     Hambatan-hambatan di dalam Diskusi
F.      Beberapa Keuntungan Metode Diskusi
G.    Beberapa Kelemahan Metode Diskusi
H.    Lembar Evaluasi Diskusi

BAB XII         Penemuan Sebagai Metode Belajar Menganjar
A.    Latar Belakang
B.     Konsep Dasar
C.     Sejarah Latar Belakangnya
D.    Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Penemuan
E.     Kebaikan dan Kekurangan Metode Penemuan

Bagian Ketiga: Beberapa Layanan Khusus Penunjang Proses Belajar Menganjar di Sekolah 

BAB XIII       Penyelenggaraan Perpustakaan di Sekolah
A.    Pendahuluan
B.     Perencanaan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah
C.     Pelaksanaan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah
D.    Supervisi Terhadap Hasil Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah

BAB XIV       Melaksanakan Bimbingan Karier di Sekolah
A.    Pengertian
B.     Tujuan Bimbingan Karier
C.     Asas-asas Pokok Pelaksanaan Bimbingan Karier
D.    Prinsip-prinsip Pokok Pengertian Bimbingan Karier
E.     Nilai-nilai
F.      Pemahaman Lingkungan
G.    Merencanakan Masa Depan
H.    Pelaksanaan dan Petugas Bimbingan Karier

BAB XV         Penyelenggaraan Kegiatan Ekstra Kurikuler Sebagai Program Layanan Khusus dalam Pendidikan di Sekolah
A.    Program Ekstra Kurikuler
B.     Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Ekstra Kurikuler
C.     Pembinaan Kegiatan Ekstra Kurikuler
D.    Tersedianya Sarana
E.     Tersedianya Dana
F.      Keberadaan Jadwal Kegiatan Ekstra Kurikuler 













Bagian Pertama: Beberapa Wawasan Proses Belajar Mengajar

BAB I             Tugas dan Peranan Guru dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah
Tugas dan peranan guru sebagai pendidik profesional sangat komplek tidak hanya  dalam proses belajar menganjar. Guru juga berperan sebagai administrator, evaluator, konselor, dan juga tugas lainnya yang sesuai dengan sepuluh kompetensi yang dimilkinya.
Untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik, guru harus memiliki kompetensi profesional yaitu ada sepuluh kompetensi guru, yaitu:
1.      Menguasai bahan
2.      Mengelola program belajar mengajar
3.      Mengelola kelas
4.      Menggunakan media/sumber belajar
5.      Menguasai landasan pendidikan
6.      Mengelola interaksi belajar mengajar
7.      Menilai prestasi belajar siswa
8.      Mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan
9.      Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10.  Memahami dan menafsirkan hasil penulisan guna keperluan pengajaran.
Kesepuluh kompetensi professional diatas merupakan profil kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh guru.
Sementara tugas guru dalam proses belajar mengajar dapat dikelompokkan ke dalam tiga kegiatan, yaitu:
1. Menyusun program pengajaran
         a. Program tahunan pelaksanaan kurikulum
         b. Program semester / caturwulan
         c. Program satuan pelajaran
         d. Perencanaan program mengajar
2. Menyajikan / melaksanakan pengajaran
         a. Menyampaikan materi (dalam GBPP)
         b. Menggunakan metode mengajar
         c. Menggunakan media/sumber
         d. Mengelola kelas/ mengelola interaksi belajar mengajar
3. Melaksanakan evaluasi belajar
         a. Menganalisis hasil evaluasi belajar
         b. Melaporkan hasil evaluasi belajar
         c. Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan
Agar pelaksanaan pelaksanaan pengajaran efektif, perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum; dilihat dari aspek-aspek:
         a. Tujuan pengajaran
         b. Bahan pengajaran yang diberikan
         c. Alat pengajaran yang digunakan
         d. Strategi evaluasi/penilaian yang digunakan
2. Keterlaksanaan proses belajar mengajar; meliputi:
         a. Mengkondisikan kegiatan belajar siswa
         b. Menyajikan alat, sumber dan perlengkapan belajar
         c. Menggunakan waktu yang tersedia untuk KBM secara efektif
         d. Motivasi belajar siswa
         e. Menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan
         f. Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar
         g. Melaksanakan komunikasi/interaksi belajar mengajar
         h. Memberikan bantuan dan bimbingan belajar mengajar kepada siswa
         i. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa
         j. Menggeneralisasikan hasil belajar dan tindak lanjut.

BAB II
MENGELOLA PROSES BELAJAR MENGAJAR

Proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan mengelola proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang edukatif antara guru dan peserta didik yang mencakup segi kognitif, afektif dan psikomotor, sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar tercapai tujuan pengajaran.
Kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Kemampuan merencanakan pengajaran, meliputi:
         a. Menguasai GBPP
         b. Menyusun analisis materi pelajaran (AMP)
         c. Menyusun program cawu
         d. Menyusun rencana pengajaran, dengan memperhatikan:
            1. Karakteristik dan kemampuan awal siswa
            2. Perumusan tujuan pengajaran
            3. Pemilihan bahan dan urutan bahan
            4. Pemilihan metode mengajar
            5. Pemilihan sarana/alat pendidikan
            6. Pemilihan strategi evaluasi
2. Kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar, meliputi:
         a. Membuka pelajaran
         b. Melaksanakan inti proses belajar mengajar, terdiri:
            1. Menyampaikan materi pelajaran
            2. Menggunakan metode mengajar
            3. Menggunakan media/alat pelajaran
            4. Mengajukan pertanyaan
            5. Memberikan penguatan
            6. Interaksi belajar mengajar
3. Kemampuan mengevaluasi/penilaian pengajaran, meliputi:
         a. Melaksanakan tes
         b. Mengolah hasil penilaian
         c. Melaporkan hasil penilaian
         d. Melaksanakan program remedial/perbaikan pengajaran

BAB III
PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI)

A. Pengertian Sistem Instruksional
Sistem instruksional menunjukkan pengertian pengajaran sebagai suatu sistem, yaitu suatu kesatuan yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai yang diinginkan.
Sejumlah komponen tersebut antara lain materi pelajaran, metode, alat dan evaluasi yang semuanya ini berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
B. Langkah-langkah Pokok dalam Pengembangan Sistem instruksional
1. Merumuskan tujuan-tujuan instruksional
Yang dimaksud tujuan instruksional di sini ialah perumusan tentang tingkah laku/kemampuan-kemampuan yang kita harapkan dapat dimiliki oleh siswa atau mahasiswa setelah mereka mengikuti pelajaran-pelajaran yang kita berikan.
 Agar perumusan tujuan instruksional cukup jelas sehingga tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda, hendaknya digunakan istilah-istilah tertentu yang operasional sehingga dapat diukur.
Contoh istilah-istilah operasional: Menulis, menghitung, menyebutkan, mengemukakan, memilih, membedakan, memecahkan, membandingkan, mendemonstrasikan, menerangkan, melukiskan, memberikan contoh, dan lain-lain.
Perumusan tujuan instruksional ini haruslah menuruti kriteria sebagai berikut:
  1. menggunakan istilah-istilah yang operasional
  2. harus dalam bentuk hasil (produk) belajar
  3. berbentuk tingkah laku siswa
  4. hanya meliputi satu jenis tingkah laku
2. Mengembangkan alat-alat evaluasi
Langkah ini adalah pengembangan tes yang fungsinya adalah untuk menilai sampai dimana para siswa/mahasiswa telah menguasai kemampuan-kemampuan yang telah kita rumuskan dalam tujuan-tujuan tersebut.
Dengan dikembangkannya alat evaluasi in, ada kemungkinan beberapa tujuan yang telah dirumuskan perlu diubah atau dipertegas rumusannya, sehingga dapat diukur.
  1. Yang pertama adalah menentukan jenis-jenis tes apa yang akan dipergunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan
  2. Kemudian kita merumuskan pertanyaan (item) untuk menilai masing-masing tujuan.
3. Menetapkan Kegiatan-kegiatan Belajar
            Dalam langkah ketiga ini dapat berupa kegiatan-kegiatan belajar yang perlu ditempuh oleh siswa/mahasiswa harus dirumuskan agar mereka nantinya dapat berbuat seperti apa yang tercantum dalam tujuan yang telah dirumuskan pula.
4. Merencanakan Program Kegiatan
            Hal-hal pokok yang perlu ditetapkan dalam merencanakan program kegiatan adalah:
  1. Merumuskan materi pelajaran
  2. Metode yang digunakan
  3. Menyusun jadwal
5. Melaksanakan Program
            Langkah-langkah yang kita gunakan adalah:
  1. Mengadakan pre-test
  2. Mengadakan evaluasi (post test)
Dengan melakukaan dua jenis perbanndingan sekurang-kurangnya 3 hal dapat diketahui
  1. Hasil belajar masing-masing siswa
  2. Sejauh mana tujuan-tujuan yang telah dirumuskan berhasil dicapai
  3. Kelemahan-kelemahan yang masih terdapat dalam bagian-bagian tertentu dari prrogram yang kita berikan, sehingga memberikan pedoman pada kita untuk mengadakan perbaikan (revisi)
Beberapa Nilai Positif Pelaksanaan PPSI
Berdasarkan atas pemikiran-pemikiran yang telah berkembang serta deskripsi pengalaman-pengalaman terakhir para guru, ternyata pelaksanaan PPSI sebenarnya membawa serta nilai-nilai positif bagi pengembangan sistem pengajaran di sekolah.
Nilai-nilai positif pelaksanaan PPSI antara lain dalam segi:
  1. Persiapan mengajar
  2. Peranan kurikulum/silabus
  3. Tujuan pengajaran (instruksional)
  4. Evaluasi belajar

BAB IV
SISTEM PENGAJARAN DI KELAS DENGAN PENDEKATAN
 KETERAMPILAN PROSES

  1. Latar Belakang Masalah
Dalam sistem belajar mengajar yang sifatnya klasikal, guru harus berusaha agar proses belajar mengajar mencerminkan komunikasi dua arah. Mengajar bukan semata-mata merupakan pemberian informasi seraya tanpa mengembangkan kemampuan mental, fisik, dan penampilan diri.
Keaktifan siswa antara lain tampak dalam kegiatan:
1.      Berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan
2.      Mempelajari, mengalami, dan menemukan sendiri bagaimana memperoleh situasi pengetahuan
3.      Merasakan sendiri bagaimana tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepadanya
4.      Belajar dalam kelompok
5.      Mencobakan sendiri konsep-konsep tertentu
6.      Mengkomunikasikan hasil pikiran, penemuan, dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau penampilan.


  1. Langkah-langkah Pelaksanaan Keterampilan Proses
1. Pemanasan
            Tujuan kegiatan ini untuk mengarahkan siswa pada pokok permasalahan agar siswa siap, baik secara mental, emosional maupun fisik.
2. Proses belajar mengajar
            Proses belajar mengajar hendaknya selalu mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa antara lain:
  1. Pengamatan
  2. Interpretasi hasil pengamatan
  3. Peramalan
  4. Aplikasi konsep
  5. Perencanaan penilitian
  6. Pelaksanaan penelitian
  7. Komunikasi
  1. Kerangka Isi Satuan Pelajaran
I.       Tujuan Instruksional Umum
II.    Tujuan Instruksional Khusus
III. Materi Pelajaran
IV. Kegiatan Belajar Mengajar
V.    Alat dan Sumber Pelajaran
VI. Penilaian
  1. Ketuntasan Belajar
  1. Pengertian dan kriteria
a.       Ketuntasan dapat dilihat secara kelompok maupun secara perseorangan
b.      Secara kelompok, ketuntasan belajar dinyatakan telah dicapai jika sekurang-kurangnya 85% dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan telah memenuhi kriteria ketuntasan yang belajar secara perorangan.
c.       Secara perorangan, ketentuan belajar dinyatakan telah terpenuhi jika seseorang (siswa) telah mencapai taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap unit bahan yang dipelajarinya
d.      Dalam kurikulum 1984, taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi ketuntasan belajar secara perorangan adalah:
1.      75 %, unit hasil penilaian formatif pada setiap satuan pelajaran
2.      60 %, unit rata-rata hasil penilaian sub sumatif, sumatif dan ko kurikuler pada setiap semester.
  1. Pola proses belajar mengajar
  2. Pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan
  1. Penggunaan kata-kata Operasional
Kata operasional merupakan gambaran kegiatan belajar siswa dalam kelas, sesuai dengan langkah-langkah pendekatan keterampilan proses yang dikehendaki oleh kurikulum 1984. Dibawah ini dikutipkan sejumlah kata operasional yang mewakili setiap langkah keterampilan proses.
  1. Pemanasan
a.       Mengingatkan kembali
b.      Mereproduksikan
c.       Memperlihatkan kembali, dan sebagainya.
  1. Mengamati
a.       Menggunakan sebanyak mungkin indera
-          Memperkenalkan
-          Memperlihatkan
-          Memperdengarkan, dan sebagainya
b.      Mengumpulkan fakta yang relevan dan memadai
-          Memilih
-          Membandingkan
-          Mengidentifikasi
-          Menggabungkan, dan sebagainya
c.       Mencari kesamaan dan perbedaan
-          Menggolong-golongkan
-          Membandingkan
-          Memilih, dan sebagainya
  1. Menafsirkan pengamatan
a.       Mencatat setiap hasil pengamatan
-          Mengutip
-          Menyalin
-          Menuliskan, dan sebagainya
b.      Menghubungkan pengamatan-pengamatan
-          Membandingkan data
-          Menganalisis
-          Menggabungkan, dan sebagainya
c.       Menemukan suatu pola dalam satu seri
-          menyimpulkan
-          menetapkan
-          menarik kesimpulan, dan sebagainya
  1. Meramalkan
-          menduga
-          meramalkan
-          memperkirakan, dan sebagainya
  1. Menerapkan konsep
a.       menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki:
-          menuturkan
-          menjelaskan
-          menerangkan
b.      menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru
-          mencobakan
-          mengeksperimenkan
  1. Merencanakan dan melaksanakan penelitian
a.       menentukan alat/bahan yang akan digunakan dalam penelitian
-          menyusun instrumen
-          menyusun angket
-          menyusun rencana interview
-          menyusun tes
b.      menentukan variabel-variabel
-          menetapkan sasaran penelitian
-          menetapkan objek penelitian
c.       menentukan variabel tetap dan variabel yang dapat berubah
d.      menetukan apa yang dapat diamati, diukur atau ditulis
e.       menetapkan cara dan langkah kerja
f.       menetapkan bagaimana menggolah data untuk menarik kesimpulan
g.      melaksanakanpenelitian
  1. Berkomunikasi
a.       menyampaikan laporan
b.      menjelaskan hasil penelitian

BAB V
PENGAJARAN YANG MEMPERHATIKAN ADANYA PERBEDAAN
INDIVIDUAL (INDIVIDUALIZED INSTRUCTION)

  1. Pendahuluan
Pada umumnya proses pendidikan dan pengajaran masih berlangsung secara klasikal, dimana dalam suatu ruangan belajar terdiri dari 30-40 orang siswa, dalam pengajaran klasikal seperti itu guru beranggapan bahwa seluruh siswa mempunyai kemampuan, kesiapan, dan kecepatan belajar yang sama.
Dalam pengajaran klasikal guru tidak memperdulikan adanya perbedaan individual pada siswa-siswanya. Anak yang yang pandai akan terhambat kemajuannya oleh kawan-kawan yang lain, sebab mereka sekelas harus maju secara bersama-sama, sebaliknya anak yang kurang pandai seolah-olah dipaksakan untuk berjalan cepat, suatu materi belum dikuasai sudah harus mempelajari materi selanjutnnya, hal ini bisa menyebabkan proses belajar menganjar tidak efektif dan tidak menyenangkan.
Ahli opendidikan seperti Pestalozzi (1746-1827) dan juga Jhon Dewey menekankan bahwa dalam proses pendidikan anak yang terpenting adalah yang utama dan bukan mata pelajaran yang utama, guru harus berperan sebagai penunjuk bagi anak. Dalam karyanya yang terkenal “Democracy And Education’’  dia melukiskan bahwa pendidikan adalah kegiatan menyediakan kondisi yang menjamin pertumbuhan, atau kehisupan yang memadai tanpa memandang umur. Adanya pengakuan terhadap terhadap perbedaan, dan dilanjutkan dengan pendidikan harus memperhatikan perbedaan-perbedaan itu dan juga mengembangkan sejauh mungkin apa yang dimiliki oleh anak.
B. Pengertian Individualized Instruiction
    Individualized Instruiction yaitu pengajaran yang memperhatikan tau berorientasi pada perbedaan-perbedaan individual anak. Dalam pengajaran Individualized Instruiction guru harus memberikan pelayanan kusus kepada murid sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Individualized Instruiction merupakan usaha memperlengkapi kondisi belajar yang optimum bagi setiap individu murid. Dalam Individualized Instruiction melibatkan pengaturan dan pelayanan yang memungkinkan setiap individu anak belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat masing masing.
C. Beberapa Pengaturan atau Pelayanan yang dapat Dikembangkan untuk Menuju Individualized Instruiction.
1. Pengaturan atau Pelayanan Sekolah.
      a. Perpustakaan yang memadai untuk studi individual.
      b. Program khusus untuk anak cepat, anak lambat, dan kelompok khusus lain.
1)      Bagi anak cepat, ada dua kemungkinan program yang dapat dikembangkan  yaitu enrichment (pengayaan) dan acceleration (percepatan).
2)      Bagi anak lambat program yang dapat dikembangkan adalah program remedial (perbaikan).
c.       Penyediaan alat pengajaran dan program pelayanan yang memberi fasilitas Individualized Instruiction.
d.      Kebijaksanaan tentang kenaikan tingkat ganda, non graded, dan penjurusan yang tidak kaku.
      2. Pengaturan dan Pelayanan dalam kelas.
            a. Pengelompokan anak atas prestasi belajarnya (achievement grouping).
Pengelompokan ini ada dua cara yaitu pengelompokan yang homogen yaitu pengelompokan menjadi satu anak-anak yang sama prestasi belajarnya. Pengelompokan secara homogen ini ada segi baiknya yaitu: anak yang cepat akan dapat maju terus, dapat belajar sesuai dengan kecepatannya, dan guru dapat mengajar sesuai dengan tingkat kemampuan anak. dan buruknya. Sementara segi buruknya yaitu: menimbulkan kesombongan bagi anak yang cepat, dan sebaliknya menimbulkan kesan rendah bagi anak yang lambat.
Sementara pengelompokan dengan cara kedua yang pengelompokan secara heterogen yaitu pengelompokan yang disusun dari anak-anak yang berbeda prestasi belajarnya. Segi baik pengelompokan heterogen yaitu: memungkinkan anak pandai menolong menjelaskan pada anak yang lambat, anak pandai menjadi perangsang bagi anak-anak lambat, dan pengelompokan ini sesuai dengan keadaan riil yang ada dalam masyarakat. Sementara segi buruk pengelompokan heterogen ini yaitu anaka yang cepat terpaksa lambat, dan guru sulit dalam menyesuaikan bahan pelajaran.
            b. Memberikan materi pengayaan pada murid.
            c. Memberikan kesempatan pada anak untuk belajar bebas
      d. Mengembangkan program individual.

BAB VI KONSEP BELAJAR TUNTAS
A. Pendahuluan
Belajar tuntas adalah suatu filsafat yang mengatakan bahwa dengan sisitem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi pelajaran yang diajarkan disekolah. Hal ini menmolak anggapan bahwa keberhasilan belajar tergantung pada IQ siwa.
C.Washburn dan H.C Marison mengembangkan suatu sisitem pengajaran sehingga semua siswa diharapkan dapat menguasai sejumlah tujuan pendidikan. Ada 4 cara yang digunakan oleh H.C Marison dalam program perbaikannya, yaitu:
1. Mengulang kembali mengajar bahan pelajaran.
2. Menuturkan siswa
3. Menyusun kembali aktifitas belajar siswa.
4. Mengadakan perbaikanterhadap kebiasaan siswa dalam cara belajarnya.

  1. Ide Lahirnya Belajar Tuntas
Perkembangan yang pesat dalam dunia pendidikan pada abad ke-20 ini membawa kita untuk mempertimbangkan suatu pandangan tenmtang kemampuan siswa yang dapat ditingkatkan  semaksimal mungkin dengan usaha yang efektif dan efisien. Menurut Benyamin S. Bloom apabila bakat siswa terdistribusi secara normal dan kepada mereka diberikan cara penyajian dengan kualitas yang sama dan waktu belajar yang sama maka hasil belajar yang dicapai akan terdistribusikan secara bormal pula. 
  1. Ciri-ciri Belajar dengan Prinsip Belajar Tuntas.
    1. Pengajaran didasarkan atas tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditentukan terlebih dahulu.
    2. Memperhatikan perbedaan individu.
    3. Evaluasi dilakukan secara kontinu dan didasarka atas kriteria.
    4. Menggunakan program perbaikan dan program pengayaan.
    5. Menggunakan prinsip-prinsip siswa belajar aktif.
    6. Menggunkan satuan pelajaran yang kecil.
  2. Persiapan Mengajar dengan Prinsip Belajar Tuntas
Strategi belajar tuntas dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a.       Menentukan tujuan pengajaran dan tingkat penguasaan.
Tujuan intruksioanal yang telah tercantum dalam garis-garis besar program pengajaran harus menjabarkan tujuan-tujuan operasional yang dapat diukur tingkat keberhasilannya.
b.      Persiapan pelaksanaan dengan prinsip belajar tuntas.

Persiapan pelaksanaan meliputi:
    1. Menentukan pokok bahasan dan luas materi unit pelajaran.
    2. Merencanakan pengajaran.
    3. Merencanakan evaluasi
    4. Merencanakan program-program perbaikan
    5. Merencanakan program pengayaan
  1. Konsep Belajar Tuntas dalam Kaitannya dengan Paket Belajar.
Ciri-ciri pengajaran dengan paket belajar adalah:
1.                           Merupakan paket pengajaran yang memungkinkan siswa belajar sendiri (self-instrument  package) dengan alat bantuan paket
2.                           Mengakui dan menghargai perbedaan individu (concern for individual differences)
3.                           Memuat rumusan tujuan pengajaran spesifik (stament of objectives)
4.                           Terdapat asosiasi, struktur, sekuen pengetahuan secara sistematik
5.                           Memungkinkan penggunaan multi media
6.                           Terjadi partisipasi aktif dari siswa
7.                           Terjadi penguatan (reinforcement) pada diri siswi dalam proses belajar
8.                           Terdapat evaluasi secara langsung dan kontinu terhadap hasil belajar siswa dengan penekanan pada belajar tuntas
9.                           Pelaksanaannya di kelas dapat menggunakan multi metode
10.                       Memberikan alternatif kegiatan yang dapat dipilih
11.                       Teknis penyampaian materi non self contained hanya berupa peyunjuk-petunjuk untuk mempelajari buku paket
Paket belajar mempunyai karakteristik:
1.      Mendukung tercapainya tujuan/ kompetensi tertentu
2.      Merupakan suatu perangkat sesuai dengan luas bahan yang digarap
3.      Menyediakan alternatif-alternatif kegiatan/ bahan yang dapat dipilih sesuai dengan minat dan komponennya.
BAB VIII
PENGANTAR KEPADA PENGENALAN METODE MENGAJAR

Arti dan Maksud Metode Pengajaran
Pemberian kecakapan dan pengetahuan kepada murid-murid yang merupakan proses pengajaran (proses belajar mengajar) itu dilakukan oleh guru di sekolah dengan menggunakan cara-cara atau metode-metode tertentu. Cara-cara yang demikianlah yang dimaksudkan sebagai metode pengajaran di sekolah.
Metodologi pengajaran pada hakikatnya merupakan penerapan prinsip-prinsip psikologi dan prinsip-prinsip pendidikan bagi perkembangan anak didik. Metodologi ynag bersifat interaksi edukatif selalu bermaksud mempertinggi kualitas hasil pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Hubungan Antara Tujuan dan Metode Pengajaran di Sekolah
Pada prinsipnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah di dalamnya dijiwai oleh adanya empat unsur penting pendidikan, yang kesemuanya berkaitan hingga merupakan suatu kerangka dasar yang tidak lagi mungkin dipisahpisah.
Yang dimaksud unsur-unsur tersebut ialah:
Filsafat hidup bangsa
Tujuan atau cita-cita pendidikan
Proses atau pelaksanaan pendidikan
Penilaian pelaksanaan pendidikan
Perumusan tujuan pendidikan di Indonesia secara resmi dapat kita jumapi dari beberapa sumbr sebagai berikut
1. Dalam Undang-Undang pokok tentang dasar-dasar pendiidikan dan pengajaran
2. Perumusan tujuan pendidikan dalam GBHN (TAP MPR No. II/MPR/1983
            Dipandang dari tingkat kemungkinan tercapainya tujuan, maka tujuan umum pendidikan 9tujuan nasional pendidikan) adalah tujuan yang paling jauh. Sehubungan dengan masalah ini, maka konsep tujuan secara bertingkat dapat lebih dikemukakan sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan nasional
            Pendidikian di Indonesia mempunyai tujuan pendidikan yang berlandaskan kepada filsafat pancasila. Sebagaimana kita lihat dalam GBHN (Ketetapan MPR No. II/MPR/1983). Dasar dan tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai berikut: “Pendidikan nasional berdasar atas Panccasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kecerdasan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.
2. Tujuan Institusional
            Tujuan institusional adalah perumusan secara umum pola perilaku dan pola kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu lembaga pendidikan.
            Perumusan tujuan institusional dipengaruhi oleh tiga hal yang penting, yaitu:
Tujuan pendidikan nasional
Kekhususan masing-masing lembaga pendidikan dalam memberikan pengalaman, kemampuan dan keterampilan tertentu
Tingkat usia siswa yang mengikuti program pendidikan pada lembaga pendidikan tersebut
3. Tujuan Kurikuler
            Tujuan kurikuler ditentukan atau diarahkan sesuai dengan tujuan institusional dari lembaga pendidikan yang bersangkutan. Tercapainya tujuan kurikuler berarti pula tercapainya pola perilaku dan pola kemampuan serta keterampilan yang harus dimiliki oleh lulussan suatu lembaga pendidikan.
4. Tujuan Instruksional
            Tujuan instruksional adalah rumusan secara terperinci apa saja yang harus dikuasai oleh siswa sesudah ia mengakhiri kegiatan instruksional yang bersangkutan dengan berhasil.

BAB IX
FAKTOR GURU DAN KEDUDUKAN METODE MENGAJAR DALAM PROSES INTERAKSI EDUKATIF

            Interaksi edukatif adalah hubungan timbal balik antara guru (pendidik)  dan peserta didik (murid), dalam suatu sistem pengajaran.
Komponen-komponen dasar dalam interaksi edukatif
Komponen-komponen tersebut adalah:
1. Tujuan Instruksional
2. Bahan Pelajaran (Materi)
3. Metode dan Alat dalam Interaksi
4. Sarana
5. Evaluasi (penilaian)
            Tercapainya interaksi antara gurudan murid sangat tergantung kepada sejauh manakah guru dapat mengkoordinasi komponen-komponen tersebut di atas sehingga benar-benar berinteraksi sebagai suatu sistem.
Pengembangan Sistem Instruksional
Pada dasarnya pengembangan sistem instruksional akan menyangkut masalah implementasi program suatu mata pelajaran di sekolah atau kelas. Karena itu, sebelum sampai kepada tahap implementasi diperlukan bagi guru untuk:
1.   Mengetahui bagaimanakah merumuskan tujuan instruksional.
Tujuan instruksional itu hendaklah dirumuskan secara operasional agar dapat dinilai atu diukur.
2.   Memilih dan menetapkan bahan pelajaran
3.   Memilih dan menggunakan metode mengajar
4.   Sarana
5.   Merencanakan program penilaian
C.  Bagaimana Guru Harus Berbuat
            Setelah guru mengetahui;
Bagaimana merumuskan tujuan instruksional
Bagaimana menetapkan bahan pelajaran
Bagaimana memilih metode mengajar
Bagaiman mengadakan evaluasi
Secara umum, setelah semua perencanaan mengajar itu telah disiapkan dengan baik, maka langkah yang dilakukan adalah mengikuti sistem sebagai berikut:
1.   Langkah Pre Test
 Pre test artinya test kepada murid mengenai bahan yang akan diajarkan kepadanya sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
2.   Langkah Proses Mengajar atau Menyampaikan Bahan Pelajaran
3.   Langkah Post Test
Post Test adalah test yang diberikan kepada murid setelah proses mengajar selesai.
4.  Membandingkan dan Menganalisis hsil test
D.  Pengaruh Faktor Guru
            Faktor-faktor yang melekat pada guru yang berpengaruh itu adalah
1. Kepribadian
2. Penguasaan bahan
3. Penguasaan Kelas
4. Cara guru berbicara
5. Cara menciptakan suasana kelas
6. memperhatikan Prinsip individualitas
7. Akhirnya sebagai seorang guru yang baik, haruslah bersifat terbuka, mau bekerja sama, tanggap terhadap inovasi, serta mau dan mampu melaksanakan eksperimen-eksperimen dalam kegiatan mengajarnya.

BAB X
METODE CERAMAH DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

A. Maksud dan Arti Metode Ceramah
            Seperti halnya yang dikemukakan oleh Winarno Surachmad M. Ed, yang dimaksud dengan ceramah sebagai metode mengajar adalah penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya. Sedangkan peranan murid dalam metode ceramah yang penting adalah mendengarkan dengan teliti serta mencatat yang pokok-pokok yang dikemukakan oleh guru.
B. Keuntungan/ Kebaikan Metode Ceramah
            Sebagai metode maka pemberian pelajaran cara berceramah memberi keuntungan dalam hal sebagai berikut:
a. Guru dapat menguasai seluruh arah kelas
b. Organisasi kelas sederhana
Kekurangan metode ceramah
a. Guru sukar mengetahui sampai dimana murid-murid telah mengerti pembicaraannya
b. Murid sering kali memberi pengertian lain dari hal yang dimaksudkan guru
C.  Langkah-langkah Untuk Mengefektifkan Metode Ceramah
            Adapun langkah-langkah/usaha-usaha itu yang perlu dipersiapkan antara lain sebagai berikut:
terlebih dahulu harus diketahui dengan jelas dan dirumuskan sekhusus-khususnya mengenai tujuan pembicaraan atau hal yang hendak dipelajari oleh murid-murid.
Bahan ceramah kemudian disusun sedemikian hingga dapat dimengerti dengan jelas, menarik perhatian murid, dan memperlihatkan pada murid-murid bahwa bahan pelajaran yang mereka peroleh berguna bagi penghidupan mereka.
Menanam pengertian yang jelas dimulai dengan suatu ikhtisar ringkas tentang pokok-pokok yang akan diuraikan.
D.  Asas-asas Didaktik dalam Metode Ceramah
            Yang dimaksudkan asas-asas didaktik ialah pedoman-pedoman atau petunjuk-petunjuk mengenai bagaimana usaha guru dalam mengajar agar bahan pelajaran itu dapat menjadi miliknya murid.
a. Asas menarik perhatian murid
b. Asas mendorong keaktifan murid
c. Asas penyesuaian diri dengan memiliki murid
d. Asas menghubungkan dengan apa yang telah diketahui
e. Asas peragaan
 f. Pelajaran dihubungkan dengan pelajaran/pengetahuan yang lain (asas korelasi)
g. Asas kepraktisan
h. Asas penyesuaian pada jiwa perseorangan
i. Asas pengulangan

E. Alat-alat Pengajaran dalam Metode Ceramah
            Dalam setiap tugas maupun kerja manusia pasti selalu mempergunakan alat-alat, untuk menyukseskan atau mencapai tujuan daripada tugas dan kerja itu. Demikian pula dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran sekolah. Setiap metode mengajar perlu menggunakan alat-alat pengajaran yang berfungsi membantu prosese pengajaran agar tujuan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.

F. Rencana Persiapan Mengajar dengan Metode Ceramah
            Di dalam buku Metodologi Pengajaran oleh DR. Winarno Surachmad dikemukakan suatu contoh pola atau rangka dari rencana persiapan mengajar dengan metode ceramah sebagai berikut:
  1. Pokok isi
  2. Tujuan pengajaran
  3.  Alat-alat pengajaran
  4. Metode mengajar
  5. Prosedur

BAB XI
METODE DISKUSI DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

Pengertian Pokok
Diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa yang tergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang sesuatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah.
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau penyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah
forum diskusi diikuti oleh semua siswa di dalam kelas dapat pula dibentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil.
diskusi dapat dilakukan dalam bermacam-macam bentuk (tipe) dan dengan bermacam-macam tujuan.

Relevansi Metode Diskusi
Teknik diskusi sebagai metode belajar mengajar lebih cocok dan diperlukan apabila kita (guru) hendak:
Memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada oleh para siswa
memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menyalurkan kemampuannya masing-masing
Memperoleh umpan balik dari para siswa tentang apakah tujuan yang telah dirumuskan telah dicapai
Membantu para siswa belajar teoretis dan praktis
Membantu para siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-temannya
Membantu para siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah yang dilihat baik dari pengalaman sendiri maupun dari pelajaran sekolah
Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.

C. Langkah-langkah Penggunaan Metode Diskusi
1.  Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya
2.   Dengan pimpinan guru para siswa membentuk kelompok diskusi
3.   Para siswa berdiskusi di dalam kelompoknya masing-masing
4.   Kemudian tiap kelompok melaporkan hasil diskusinya
5.   Akhirnya para siswa mencatat hasil diskusi dan guru mengumpulkan laporan hasil diskusi dari tiap-tiap kelompok sesudah para siswa mencatatnya untuk “file” kelas.

D. Peranan Guru
            Beberapa peranan guru dalam diskusi antara lain adalah
1. Guru sebagai “ahli” (= expert)
2. Guru sebagai “pengawas“
3. Guru sebagai “penghubung kemasyarakatan“
4. Guru sebagai “pendorong“ (= fasilitator)

E. Hambatan-Hambatan di dalam Diskusi
            Faktor-faktor penghambat dari pihak siswa sudah jelas persoalannya. Mereka memang sedang belajar dan latar belakang mereka jelas berbeda-beda. Adalah tugas guru untuk membimbing mereka melalui berbagai macam peranan.

F. Beberapa Keuntungan Metode Diskusi
Metode diskusi melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar
Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pelajarannya masing-masing
Dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah
Dengan mengajukan dan mempertahankan peendapatnya dalam diskusi diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan (kemampuan) diri sendiri
Dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa
G. Beberapa Kelemahan Metode Diskusi
Suatu diskusi memerlukan keterampilan-keterampilan tertentu yang belum pernah dipelajari sebelumnya
Jalannya diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh beberapa siswa yang “menonjol“
Sering terjadi dalam diskusi murid kurang berani mengemukakan pendapatnya
dan sebagainya


BAB XII
PENEMUAN SEBAGAI METODE BELAJAR MENGAJAR

A. Latar Belakang
            Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah “metode penemuan“. Hal itu disebabkan karena metode penemuan itu:
1.      Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif
2.      dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan
3.      Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertianyg betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi alin
4.      Dengan menggunakan strategi penemuananak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri
5.      dan sebagainya.

B. Konsep dasar
            Metode penemuan diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan , manipulasi objek dan lain-lain percobaan, sebelum samapi kepada generalisasi. Sebelum siswa sadar akan pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata.
            Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode penemuan itu adalah suatu metode dimana dalam proses belajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.

C. Sejarah Latar Belakangnya
            Metode penemuan telah berkembang dari berbagai gerakan pendidikan dan pemikiran yang mutakhir, seperti:
Gerakan progresif
Pendekatan yang berpusat pada anak

D. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Penemuan
            Langkah-langkah yang harus dikerjakan itu adalah:
Identifikasi kebutuhan siswa
Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip pengertian konsep dan generalisasi yang akan dipelajari
Seleksi bahan, dan problema
Membantu memperjelas
Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan
Mengecek pengertian siswa tentang masalah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan
Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan
Membantu siswa dengan informasi
Memimpin analisis sendiri
Merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa
Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan
Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya.

E. Kelebihan dan Kelemahan Metode Penemuan
1. Kebaikan metode penemuan
Metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri
Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan muthlak
Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa,
Dan sebagainya
2. Kelemahan metode ini
Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini
Metode ini kurang  berhasil untuk mengajar kelas besar
Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional
Dalam beberapa ilmu ( misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada.
Dan sebagainya

BAB XIII
PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN DI SEKOLAH

  1. Pendahuluan
1. Pengertian Perpustakaan Sekolah
            Perpustakaan sekolah adalah suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari lembaga pendidikan sekolah, yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan oleh siswa dan guru sebagai sumber informasi, dalam rangkan menunjang program belajar mengajar di sekolah. (Mulyani A. Nurhadi, 1983: 1)
            Dari pengertian di atas ada beberapa ciri atau unsur pokok yang ada dalam perpustakaan yaitu:
Tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka
Koleksi bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu
Untuk digunakan secara kontinu oleh guru dan murid
Sebagai sumber informasi
Merupakan suatu unit kerja

2. Tujuan
         Tujuan diselenggarakannya perpustakaan sekolah adalah untuk:
Meningkatkan kemampuan berpikir dan menanamkan kebiasaan belajar sendiri sesuai dengan bakat dan perkembangannya
Menanamkan pengetahuan yang terpadu dan bukan mengajarkan mata pelajaran secara berkotak-kotak
Memupuk saling pengertian antara anak didik dan kebiasaan menghargai prestai keilmuan yang diperoleh seseorang dari kegiatan mencari sendiri melalui membaca buku. (Soeatminah, 1982:1)

3. Peranan dan Kedudukan Perpustakaan Sekolah
            Dalam hubungannya dengan keseluruhan proses pendidikan di sekolah, perpustakaan berperan sebagai:
Instalasi atau sebagai sarana pendidikan yang bersifat teknis edukatif, bersama-sama dengan unsur-unsur pendidikan lainnya ikut menentukan terjadinya proses pendidikan. (Nurhadi, Mulyani A., 1983: 9)
4. Fungsi
            Sesuai dengan tujuannya, fungsi pokok perpustakaan sekolah adalah
Sebagai sumber belajar
Sebagai sumber informasi
Sebagai sumber ilmu pengetahuan
Sumber rekreasi
5. Kegiatan Kerja Perpustakaan
a. Pembinaan koleksi perpustakaan
1)      Pengadaan koleksi perpustakaan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam  pengadaan koleksi perpustakaan
a)      macam koleksi
b)      banyaknya koleksi
c)      cara pengadaan
2)      Pengolahan koleksi perpustakaan
a)      Inventarisasi
b)      Klasifikasi
c)      Katalogisasi
d)     Penyelesaian koleksi
3)      Pemeliharaan koleksi perpustakaan
Pemeliharaan koleksi perpustakaan adalah suatu kegiatan kerja yang berupa pekerjaan memelihara koleksi perpustakaan yang telah dioleh terhadap semua gangguan.
b. Pelayanan Pemakai Perpustakaan
            Ada beberapa macam jenis pelayanan, namun menurut Mulyani A. Nurhadi dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu:
Pelayanan sirkulasi
Adalah suatu jenis pelayanan kepada pembaca (guru dan murid) yang berhubungan  dengan urusan pinjam meminjam dan pengembalian buku yang boleh dipinjam serta hal-hal yang berkaitan dengannya. (Soeatminah, 1982: 55-56)
Pelayanan referensi
Adalah kegiatan yang berupa memberikan bimbingan kepada siswa dan guru yang menggunakan perpustakaan, agar mampu menggunakan koleksi dan sumber-sumber referensi dengan cepat dan tepat, atas permintaan atau tidak.
(Nurhadi, Mulyani A., 1983: 131)
Pelayanan jam perpustakaan
Adalah suatu jam khusus yang diisi dengan kegiatan yang ada kaitannya dengan usaha pendayagunaan perpustakaan sekolah secara lebih efektif. (Soeatminah, 1982: 70)
c. Pekerjaan Kesekretariatan
            Kegiatan kerja kesekretariatan meliputi:
Surat menyurat
Perlengkapan
Penjilidan
Keuangan
Pembersihan
Umum.

  1. Perencanaan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah
Perencanaan penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah kegiatan yang berupa persiapan menyusun suatu keputusan dalam bentuk langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perpustakaan sekolah untuk mencapai tujuan penyelenggaraan perpustakaan sekolah dengan menggunakan sumber-sumber yang ada secara efektif dan efisien.
Langkah-langkah perencanaan penyelenggaraan perpustakaan sekolah
Menentukan kegiatan apa yang akan dikerjakan
Menentukan kapan waktu pelaksanaan kegiatan kerja perpustakaan sekolah
Menentukan tempat kegiatan kerja perpustakaan akan dilaksanakan
Menentukan personel/ orang yang akan melaksanakan kegiatan kerja perpustakaan
Menentukan cara kerja pelaksanaan kegiatan perpustakaan
Hal-hal yang direncanakan
1.      Perencanaan pengadaan koleksi perpustakaan
 Dalam merencanakan kegiatan pengadaan koleksi perpustakaan sekolah, maka petugas perpustakaan perlu menentukan dan memikirkan:
a.       Tindakan/kegiatan apa yang akan dilakukan
b.      Kapan koleksi perpustakaan diadakan
c.       Darimana koleksi perpustakaan sekolah diadakan
d.      Siapa yang akan membuat rencana pengadaan koleksi
e.       Peralatan apa yang diperlukan
f.       Bagaiman koleksi perpustakaan diadakan
2.      Perencanaan Pengelola Koleksi perpustakaan
Agar pengolahan koleksi dapat berjalan lancar, petugas perpustakaan perlu menentukan dan memikirkan:
a.       Tindakan/kegiatan apa yang akan dilakukan
b.      Kapan pengolahan koleksi akan dilakukan
c.       Dimanakah tempat untuk melakukan pengolahan tersebut
d.      Siapa yang akan mengolah koleksi bahan pustaka
e.       Perlengkapan yang diperlukan dalam pengolahan buku/bahan pustaka
f.       Bagaimana mengolah koleksi bahan pustaka
3.      Perencanaan Pelayanan Perpustakaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan direncanakan adalah sebagai berikut;
a.       Tindakan apa/ kegiatan apa yang akan dilakukan
b.      Kapan waktu pelayanan dilaksanakan
c.       Di mana tempat pelaksanaan pelayanan
d.      Siapa yang bertugas di bidang pelayanan
e.       Perlengkapan apa yang perlu disediakan
f.       Bagaimana pelaksanaan pelayanan dilakukan
-          Prosedur peminjaman
-          Prosedur pengembalian
  1. Pelaksanaan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah
Langkah-langkah pelaksanaan penyelenggaraan perpustakaan:
Pengorganisasian
Kepala Perpustakaan
Tata usaha
Bagian pengolahan
Bagian Pelayanan
Penyusunan staf penyelenggaraan perpustakaan sekolah
Kepala perpustakaan
Tata usaha perpustakaan
Bagian pengolahan koleksi
Bagian pelayanan
Pengarahan kegiatan perpustakaan
Pengarahan yang diberikan kepala perpustakaan kepada para tenaga pelaksanaan meliputi pengarahan tentang:
Cara menginventarisasi buku
Cara mengklasifikasi buku
Cara membuat katalog, membuat label dan kartu-kartu
Cara menata koleksi di rak
Prosedur peminjaman dan pengembalian
Cara memelihara koleksi
Sedangkan pengarahan kepada siswa meliputi pengarahan
  1. Tata tertib perpustakaan
  2. Cara menggunakan katalog
  3. Cara menelusuri buku
  4. Pengarahan tentang manfaat penggunaan perpustakaan
Koordinasi kegiatan perpustakaan Sekolah
Pelaksanaan koordinasi dalam kegiatan perpustakaan misalnya
dalam pemilihan koleksi yang akan diadakan/dalam penambahan koleksi
Dalam pemakaian koleksi
Pelaporan kegiatan perpustakaan sekolah
Hal-hal yang perlu dilaporkan dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah antara lain:
Jumlah koleksi yang ada
Kondisi/keadaan koleksi
Kebutuhan koleksi/koleksi yang perlu diadakan
Sarana yang ada dalam perpustakaan
Rekapitulasi pelayanan
Pembiayaan, dan
Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam penyelenggaraan perpustakaan.
Proses pembuatan laporan penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:
Bagian pengolahan koleksi, bagian pelayanan dan tata usaha memberikan laporan mengenai pekerjaannya masing-masing kepada kepala perpustakaan.
Kepala perpustakaan memberikan laporan meengenai keadaan dan semua pekerjaan perpustakaan sekolah kepada kepala sekolah.
Kepala sekolah melaporkan kepada kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum di Kanwil cq bagian sarana, prasarana mengenai buku-buku yang berasal dari negara.
Pembiayaan kegiatan perpustakaan sekolah
Secara terperinci, sumber biaya untuk penyelenggaraan perpustakaan sekolah berasal dari:
Anggaran rutin
Anggaran SPP
Badan pembantu penyelenggaraan pendidikan (BP3)
Anggaran proyek
Yayasan atau penyumbang lain
Pengawasan (controlling)
Ada beberapa teknik untuk melakukan pengawasan, yaitu:
Mempelajari laporan dari pelaksanaan kegiatan yang diberikan secara lisan, baik berkala maupun sewaktu-waktu
Penelaahan terhadap buku catatan tugas atau hasil kerja, jadwal kegiatan, dan sebagainya
Wawancara dengan petugas perpustakaan sekolah
Pengambilan Keputusan
            Dalam kegiatan perpustakaan sekolah, pengambilan keputusan dapat diambil secara individu yaitu oleh kepala perpustakaan maupun secara kelompok yaitu orang-orang yang terlibat dalam kegiatan perpustakaan.
Supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan penyelenggaraan perpustakaan sekolah 
Hal-hal yang perlu disupervisi dan dievaluasi adalah
Pelaksanaan pengadaan koleksi yaitu mengenai isi koleksi
Pelaksanaan pengolahan koleksi
Pelaksanaan pelayanan
Pemeliharaan atau perawatan koleksi apakah telah dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan
Fungsi-fungsi pengelolaan apakah telah semuanya diterapkan dalam penyelenggaraan pendidikan
Hambatan atau kendala yang dihadapi dan pemecahannya
Dalam pengadaan koleksi sulit untuk menentukan buku mana yang seharusnya diadakan terlebih dahulu
Penataan ruangan kurang mendukung pelaksanaan pelayanan
Baik ruangan koleksi maupun ruang baca tidak mampu menampung seluruh siswa, maka untuk mengatasinya dengan membuat jadwal pemakaian
Buku-buku banyak yang rusak dan hilang
Belum semua fungsi pengelolaan diterapkan dalam penyelenggaraan perpustakaan

  1. Supervisi Terhadap Hasil Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah
Dalam melaksanakan kegiatan supervisi ini  supervisor (kepala sekolah atau pengawas sekolah) dapat menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
Kunjungan
Pertemuan (individu maupun kelompok)
Dalam rangka supervisi dan evaluasi terhadap hasil kegiatan perpustakaan sekolah, supervisor dapat menggunakan langkah-langkah supervise sebagai berikut:
  1. Identifikasi masalah
  2. Diagnosis penyebab masalah
  3. Mengembangkan rencana kegiatan
  4. Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan
  5. Mengevaluasi hasil kegiatan


BAB XIV
MELAKSANAKAN BIMBINGN KARIER DI SEKOLAH

Pengertian
Bimbingan karier merupakan suatu program yang disusun untuk menolong perkembangan anak muda agar mengerti akan dirinya, mempelajari dunia kerja untuk mendapatkan pengalaman yang akan membantu dalam membuat keputusan dan mendapatkan pekerjaan.
Tujuan Bimbingan Karier
Tujuan bimbingan karier di sekolah adalah membantu siswa agar memperoleh pemahaman diri dan pengarahan dalam proses mempersiapkan diri untuk bekerja dan berguna kelak dalam masyarakat.
asas-asas Pokok Pelaksanaan BK
Pelaksanaan BK di sekolah harus didasarkan kepada hasil penelusuran yang cermat terhadap kemampuan dan minat siswa serta pola dan kualifikasi karier dalam masyarakat
Pemilihan dan penentuan jenis bidang karier hendaknya didasarkan kepada keputusan siswa sendiri yang telah melalui proses penelusuran kemampuan dan minat serta pengenalan karier masyarakat
Pelaksanaan BK harus melaui proses yang berjalan kontinu mengikuti pelaksanaan program pendidikan disekolah
Pelaksanaan BK harus merupakan perpeduan pendayagunaan potensi siswa dan lingkungan
Pelaksanaan BK tidak menimbulkan tambahan bahan pembiayaan yang berat bagi orang tua siswa
Pelaksanaan BK harus menjalin kera sama antara sekolah dan luar sekolah mengarah pencapaian tujuan pembangunan generasi muda
Prinsip-prinsip Pokok Pengertian BK
  1. Pemilihan pekerjaan merupakan suatu proses yang terus menerus
  2. Pemilihan dan penyesuaian pekerjaan dimulai dengan pengetahuan tentang diri
  3. BK harus merupakan proses perkembangan konsep diri
  4. BK membantu pemahaman dunia kerja dan pekerjaan dalam masyarakat
  5. BK akan dapat menunjukkan berbagai hambatan yang mungkin timbul dan tahu cara mengatasinya.
BK dilaksanakna melalui sistem pengajaran paket. Paket yang dikembangkan adalah:
Pemahaman diri
Nilai-nilai
Pemahaman lingkungan
Hambatan dan cara mengatasinya
Perencanaan masa depan
Nilai- nilai
Untuk memahami dan mendapatkan karier yang baik, diharapkan individu memahami:
  1. Nilai-nilai kehidupan
  2. Saling mengenal nilai-nilai orang lain
  3. Pertentangan nilai dalam dirinya
  4. Pertentangan nilai pribadi dgn orang lain
  5. Nilai-nilai yang bertenyangan dengan kelompok/masyarakat
  6. Menentukan alternatif
Pemahaman Lingkungan
Informasi pendidikan
Kekayaan daerah dan perkembangannya
Informasi Jabatan
Hambatan-hambatan dan cara mengatasinya
Faktor penyebab hambatan yaitu:
  1. Faktor pribadi
  2. Faktor lingkungan
  3. Manusia dan hambatan
  4. Cara mengatasi hambatan dengan jalan:
a.       memahami kemampuan dirinya
b.      ada kemampuan untuk mengatasi
c.       memahami ekonomi keluarga
d.      memperhatikan lingkungan
e.       memiliki nilai pribadi yang kuat
Merencanakan Masa Depan
1. Menyusun informasi harus dipahami
bakat dan kemampuan
sifat-sifat dirinya
jenis pekerjaan yang diminati
cita-cita di bidang karier
kegiatan-kegiatan yang diminati
2. Mengelola informasi
3. Mempertimbangkan alternatif
4. Keputusan
5. Merencanakan masa depan
Kegiatan bimbingan karier dapat dilakukan di:
Kelas
Ruang BP
Luar sekolah
Jalinan kerja antara kepala sekolah, koordinator BP, guru BP serta wali kelas harus merupakan satu bahasa dalam pengertian BK ini, sehingga siswa tidak terombang ambingkan oleh pengertian yang didapat dari seorang guru dengan guru yang lain.
Pelaksanaan dan Petugas Bimbingan Karier
Kepala sekolah bertanggung jawab secara struktural dan fungsional dalam pelaksanaan BK di sekolah
Koordinator BP menyusun program BK secara menyeluruh, dan bersama-sama guru BP melaksanakan program tersebut
Guru BP melaksanakan program NP dan program BK
Wali kelas dan guru bidang studi sebagai pembantu pelaksana
Orang tua, pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat menjadi manusia sumber dan penunjang pelaksanaan BK.

BAB XV
PENYELENGGARAAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER SEBAGAI PROGRAM LAYANAN KHUSUS DALAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH

  1. Program Ekstakurikuler
a. Pengertian Program Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan di luar struktur program dilaksanakan di luar jam pelajaran biasa agar memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan siswa.
b. Tujuan dan Ruang Lingkup kegiatan ekstrakurikuler
            Tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan adalah (1987: 9)
Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, afektif dan psikomotor
Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif
Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya.
Ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler adalah berupa kegiatan yang dapat menunjang dan dapat mendukung program intrakurikuler yaitu mengembangkan pengetahuan dan kemampuan penalaran siswa, keterampilan melalui hobi dan minatnya serta pengembangan sikap yang ada pada program intrakurikuler dan program kokurikuler.
c. Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler
            Secara umum, jenis kegiatan ekstrakurikuler sebagai berikut:
1)      Lomba Karya Ilmu Pengetahuan remaja (LKIPR)
2)       Pramuka
3)      PMR/UKS
4)      Koperasi sekolah
5)      Olahraga prestasi
6)      Kesenian tradisional/modern
7)      Cinta alam dan lingkungan hidup
8)      Peringatan hari-hari besar
9)      Jurnalistik
10)  PKS
d. Prinsip-prinsip Program Ekstrakurikuler
            Menurut Oteng Sutisna, prinsip program ekstrakurikuler adalah (1985: 58)
  1. Semua murid, guru dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha meningkatkan program.
  2. Kerjasama dalam tim adalah fundamental
  3. Pembatasan-pembatasan untuk partisipasinya hendaknya dihindarkan
  4. Prosesnya adalah lebih penting dari hasil
  5. Program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang dapat memenuhi kebutuhan dan minat semua siswa
  6. Dan sebagainya.
e. Sumbangan kegiatan ekstrakurikuler
            Millier, Mayer dan Pattirck, seperti yang dikutip oleh Percy e. Burrup dalam bukunya Modern High School Administration menunjukkan berbagai macam fungsi kegiatan ekstrakurikuler. Mereka menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi siswa, bagi pengembangan kurikulum dan bagi masyarakat.
  1. Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
a. Pengertian Partisipasi
            Partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi serta fisik anggota dalam memberikan inisiatif terhadap kegiatan-kegiatan yang dilancarkan oleh organisasi serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya.
b. Manfaat Partisipasi
  1. Lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar karena banyaknya sumbangan pikiran
  2. Pengembangan potensi diri dan kreativitas
  3. Adanya penerimaan yang lebih besar terhadap perintah yang diberikan dan adanya perasaan diperlukan
  4. Melatih untuk bertanggung jawab serta mendorong untuk membangun kepentingan bersama.
c. Tingkat Partisipasi
            Mengukur partisipasi siswa dapat dilihat dari seberapa jauh keterlibatannya dalam organisasi dimana mereka menjadi anggotanya. Partisipasi tersebut akan terwujud apabila organisasi memberikan peluang bagi anggotanya untuk berpartisipasi.
Hal-hal yang Mempengaruhi Timbulnya Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
Partisipasi dalam suatu organisasi dipengaruhi oleh:
1)      Adanya daya tarik dari objek yang bersangkutan
2)      Karena diperintahkan untuk berpartisipasi
3)      Adanya manfaat bagi dirinya
e. Bentuk Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
            Untuk mengukur partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler ditentukan oleh:
a)      Tingkat kehadiran dalam pertemuan
b)      Jabatan yang dipegang
c)      Pemberian saran, usulan, kritik dan pendapat bagi peningkatan organisasi
d)     Kesediaan anggota untuk berkorban
e)      Motivasi anggota
  1. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler
Adapun tugas-tugas seorang pembina kegiatan ekstrakurikuler oleh Made Pidate dalam bukunya Supervisi Pendidikan dikatakan sebagai berikut:
a.       Tugas mengajar
1.      Merencanakan aktivitas
2.      Membimbing aktivitas
3.      Mengevaluasi
b.      Ketatausahaan
1.      Mengadakan presensi
2.      Menerima dan mengatur keuangan
3.      Mengumpulkan nilai
4.      Memberikan tanda penghargaan
c.  Tugas-tugas umum
Mengadakan pertandingan, pertunjukan, perlombaan, dan lain-lain.
  1. Tersedianya Sarana
Yang dimaksud dengan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar teratur, efektif dan efisien. (Depdikbud, 1998)
Yang dimaksud dengan sarana ekstrakurikuler adalah ada tidaknya sarana yang dapat disediakan oleh sekolah guna memberi kemudahan kepada peserta dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
  1. Tersedianya Dana
Tersedianya dana ekstrakurikuler diartikan sebagai besarnya dana yang disediakan oleh sekolah guna memberi kemudahan kepada peserta dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Menurut Suharsimi Arikunto (1985: 2) sumber pembiayaan pendidikan berasal dari empat arah, yaitu:
a.       Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
b.      Orang tua murid (SPP dan BP3)
c.       Masyarakat
d.      Dana bantuan atau pinjaman pemerintah dari luar negeri.
  1. Keberadaan Jadwal Kegiatan Ekstrakurikuler
Penjadwalan merupakan salah satu kegiatan administrasi di sekolah. Jadwal ini dimaksudkan untuk mengatur program belajar, praktek, program lapangan dapat terselenggara secara tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang tersedia dengan segala keterbatasannya.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar